Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.813 per dolar AS pada perdagangan hari ini, turun 9 poin atau 0,05 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.804 per dolar AS. Pelemahan tipis ini menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati di tengah dua sentimen besar yang belum mereda.
Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang segera dirilis. Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah terus mendorong harga minyak dunia naik dan menambah tekanan ke mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Risiko geopolitik menekan sentimen pasar
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah berkaitan erat dengan kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan itu dipicu ancaman Presiden Trump untuk menyerang Lebanon jika Hizbullah terus menyerang Israel.
Ketegangan tersebut membuat investor kembali berhati-hati karena efeknya cepat merambat ke pasar energi. Harga minyak yang lebih tinggi umumnya memicu kekhawatiran inflasi dan arus modal, sehingga menekan mata uang emerging markets.
Situasi di kawasan itu juga diperburuk oleh perkembangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Mengutip Sputnik, delegasi Iran meninggalkan lokasi perundingan dengan AS di Swiss pada Minggu, 21 Juni, sebagai protes terhadap ancaman Trump.
Langkah itu disebut diambil setelah Trump mengancam akan kembali menyerang Iran jika Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon agar berhenti membuat masalah. Ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kemudian meminta AS berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.
Ghalibaf juga menegaskan kesiapan angkatan bersenjata Iran untuk merespons segala bentuk ancaman. Perundingan tingkat teknis antara Iran dan AS, yang dimediasi Pakistan dan Qatar, berlangsung tertutup di kawasan resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, pada Minggu, 21 Juni.
MSCI menjadi penentu arah sentimen domestik
Di sisi lain, pasar menunggu annual market classification review dari MSCI yang akan dirilis pada Selasa, 23 Juni, malam waktu AS. Evaluasi itu akan menilai Indonesia lebih jauh, termasuk transparansi informasi, risiko politik, dan risiko ekonomi.
MSCI sebelumnya telah merilis laporan aksesibilitas pasar saham Indonesia pada 18 Juni dan masih menempatkan Indonesia dalam kategori emerging markets. Namun, pasar kini mengkhawatirkan kemungkinan penurunan status ke frontier, sebagaimana disorot Rully Nova.
Rully mengaitkan potensi itu dengan rencana tata niaga ekspor komoditas strategis lewat PT DSI atau mekanisme satu pintu. Menurut dia, tata kelola semacam itu berisiko karena perangkat peraturan dan perundangan belum diperbarui.
Ia juga mencontohkan aturan penanaman modal yang dinilai masih berada dalam koridor undang-undang penanaman modal lama. Karena itu, keputusan MSCI dipandang bisa memberi pengaruh langsung terhadap persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Ruang gerak rupiah masih terbatas
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.780 per dolar AS hingga Rp17.830 per dolar AS. Proyeksi ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase waspada dan belum memiliki dorongan kuat untuk menguat.
Selain faktor eksternal, pemerintah disebut akan menggelontorkan sejumlah insentif untuk mendongkrak ekonomi di tengah sentimen domestik. Meski begitu, perhatian pasar masih akan tertuju pada konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, dan hasil evaluasi MSCI yang berpotensi menentukan arah rupiah berikutnya.
