Rupiah Tertekan, Biaya Tahu-Tempe Ikut Naik Dan Pedagang Makin Terjepit

Author: Redaksi Android62

Bagi pedagang tahu dan tempe, pelemahan rupiah bukan sekadar kabar di pasar keuangan. Kondisi itu langsung terasa di biaya produksi karena kedelai masih banyak bergantung pada impor.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui tekanan nilai tukar ikut mendorong naiknya ongkos bahan baku. Akibatnya, ruang keuntungan pelaku usaha kecil menyempit dan sebagian dari mereka terpaksa menyesuaikan harga jual.

Di DPR RI, Senayan, Jakarta, Purbaya menjelaskan bahwa para penjual tahu dan tempe sudah menghadapi beban yang lebih berat. Menurut dia, pelemahan rupiah membuat bahan baku impor menjadi lebih mahal dan biaya produksi ikut terkerek naik.

“Para penjual tahu, tempe, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya impor sehingga menaikkan biaya produksi mereka,” kata Purbaya. Pernyataan itu menegaskan bahwa efek rupiah melemah tidak berhenti di level makro, tetapi masuk sampai ke lapangan usaha kecil.

Tekanan semacam ini juga berpotensi dirasakan rumah tangga. Jika biaya bahan baku terus naik, dampaknya bisa menyentuh harga kebutuhan harian yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Purbaya menilai stabilitas nilai tukar penting agar harga barang berbahan impor tetap terkendali. Ia melihat pelemahan rupiah sebagai persoalan yang memengaruhi pedagang kecil sekaligus konsumen akhir.

Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah disebut sedang menyiapkan langkah bersama otoritas moneter. Purbaya menekankan perlunya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral agar stabilitas rupiah bisa lebih terjaga.

Ia menilai koordinasi yang lebih erat dapat membantu menahan gejolak nilai tukar. Sinergi itu juga diharapkan memberi dampak yang lebih kuat pada perekonomian, baik di level makro maupun mikro.

Purbaya juga menyebut penguatan koordinasi fiskal dan moneter penting untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah. Menurut dia, jika kepercayaan pasar menguat, rupiah punya peluang bergerak lebih baik dan harga pangan berbahan impor bisa lebih stabil.

“Kit akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian,” ujarnya. Ia menambahkan, sinergi penuh diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan pasar dan mendorong rupiah menguat lebih signifikan.

Bagi pelaku usaha kecil, arah kebijakan itu menjadi penting karena beban biaya mereka sangat sensitif terhadap kurs. Selama bahan baku masih bergantung pada impor, setiap pelemahan mata uang berpotensi menambah tekanan produksi dan memaksa penyesuaian harga di lapangan.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru