Pasar valuta asing kembali menempatkan rupiah dalam posisi rentan setelah mata uang Garuda ditutup melemah ke Rp 17.528 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat hingga Rp 17.475 per dolar AS, tetapi tekanan jual kembali muncul dan membuat kurs berbalik turun 53 poin di akhir sesi.
Pergerakan yang rapuh itu menunjukkan investor masih memilih bersikap hati-hati ketika sentimen global belum memberi arah yang stabil. Di tengah kondisi seperti ini, rupiah mudah terseret arus pelemahan mata uang emerging markets lainnya.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, tekanan terbesar datang dari pasar yang kembali sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.
Pernyataan tersebut mengurangi optimisme terhadap tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat. Ketika peluang mereda, ketidakpastian justru bertahan lebih lama dan membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Kekhawatiran itu tidak berhenti pada isu diplomasi semata. Gangguan distribusi pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih berlangsung ikut menambah beban sentimen dan membuat pasar global terlihat semakin rapuh.
Di saat yang sama, investor juga menunggu perkembangan dari rencana pertemuan Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Agenda yang disebut berlangsung pada 14-15 Mei 2026 di Beijing itu dipandang penting karena akan menyentuh sejumlah isu besar.
Pembahasan yang diperkirakan muncul mencakup ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasokan global. Karena menyangkut dua ekonomi besar dunia, hasil pertemuan tersebut berpotensi memengaruhi arah sentimen risiko di pasar internasional.
Sikap menunggu atau wait and see dari investor membuat tekanan pada aset berisiko tetap terasa. Dalam situasi seperti ini, rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling cepat merasakan efek dari perpindahan minat pasar ke aset yang lebih aman.
Selain geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data indeks harga produsen AS. Data tersebut dinilai penting untuk membaca tekanan inflasi terbaru sekaligus memperkirakan langkah kebijakan suku bunga Federal Reserve berikutnya.
Ibrahim menilai pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Perubahan pandangan itu membuat dolar AS tetap kuat dan menambah tekanan terhadap rupiah di pasar valas.
Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS. Kisaran itu menunjukkan masih besarnya ruang fluktuasi di tengah sentimen eksternal yang bergerak cepat.
Dengan kondisi global yang mudah berubah, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, dan respons pelaku pasar internasional. Selama ketidakpastian belum mereda, tekanan terhadap rupiah masih berpeluang bertahan.
Source: www.beritasatu.com