Saat Sayap Drone Keluar dari Air, UCF Temukan Titik Paling Goyah yang Tak Terduga

Bagian paling rawan dari drone amfibi ternyata justru muncul pada detik-detik awal ketika sayapnya meninggalkan air. Di fase singkat itu, tim peneliti University of Central Florida atau UCF menemukan bahwa gaya angkat tidak naik secara mulus, melainkan melonjak lebih dulu lalu turun tiba-tiba sebelum stabil.

Fenomena ini disebut lift overshoot dan dinilai berisiko mengganggu kendali wahana nirawak. Menurut Associate Professor of Aerospace Engineering Samik Bhattacharya, perubahan gaya yang mendadak dapat memicu ketidakstabilan dan bahkan hilangnya kontrol saat drone bertransisi dari air ke udara.

Fase egress yang paling sulit dikendalikan

Penelitian yang didukung hibah dari U.S. Army Combat Capabilities Development Command dan DEVCOM Army Research Office ini berlangsung selama sembilan bulan. Bhattacharya memimpin studi tersebut bersama mahasiswa pascasarjana Dominic Polidoro ’25, dengan fokus pada proses yang disebut egress, yaitu momen ketika sayap keluar dari air dalam hitungan sepersekian detik.

Untuk memahami perubahan gaya itu, tim UCF menggabungkan pemodelan matematika dengan eksperimen langsung. Mereka menggunakan sayap cetak 3D dan tangki air khusus di Experimental Fluid Mechanics Lab milik UCF guna mengamati transisi yang sangat cepat tersebut.

Apa saja yang diamati peneliti

Studi ini tidak hanya memeriksa gaya angkat, tetapi juga detail fisik lain yang muncul sangat cepat saat sayap melintas dari air ke udara. Tim meneliti deformasi permukaan, pembentukan gelombang, dan vortex shedding yang terjadi dalam hitungan milidetik.

Gabungan data eksperimen dan model matematika diharapkan membantu menjelaskan mengapa transisi ini begitu sulit dijaga tetap stabil. Dari hasil awal, pergeseran gaya yang mendadak menjadi tantangan utama bagi desain drone amfibi yang ingin bekerja andal di dua medium.

Manfaat yang diincar, dari militer hingga pencarian korban

Ketertarikan militer terhadap teknologi ini cukup besar karena UAV amfibi dapat memberi kemampuan baru untuk pengintaian dan pengerahan cepat. Namun manfaatnya juga relevan untuk operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah pesisir, respons bencana, serta pemantauan laut.

Drone seperti ini berpotensi bergerak lebih leluasa antara lingkungan air dan udara. Karena itu, pengembangan stabilitas pada fase keluar dari air menjadi kunci sebelum kemampuan operasionalnya benar-benar dapat dimanfaatkan secara luas.

Bhattacharya menyebut bahwa kendaraan semacam ini diharapkan bisa beroperasi andal di dua medium dalam 10 tahun, dengan kapasitas muatan yang lebih baik dan kemampuan otonom yang lebih maju. Ia menilai kemampuan tersebut akan melampaui teknologi yang ada saat ini.

Riset UCF ini juga menarik perhatian para ahli dinamika fluida dan desain UAV setelah dipresentasikan di American Institute of Aeronautics and Astronautics SciTech Forum 2026. Paparan itu menempatkan studi tersebut dalam diskusi yang lebih luas tentang bagaimana kendaraan otonom dapat dibuat lebih stabil di lingkungan ekstrem.

Dengan fokus pada momen paling goyah saat sayap meninggalkan air, UCF berharap temuan ini bisa menjadi dasar bagi generasi berikutnya dari drone amfibi. Tujuannya adalah membuat transisi dari air ke udara berlangsung lebih terkendali, stabil, dan layak diterapkan dalam operasi nyata.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer