Saham IPO yang Sempat ARA Mulai Terkoreksi, Risiko Pemburu Harga Meningkat

Author: Redaksi Android62

Reli cepat saham IPO tidak selalu bertahan lama. JELI, misalnya, terkoreksi 40,13 persen dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya menjadi perhatian pasar pada masa awal perdagangan.

Tekanan jual juga muncul pada lima saham IPO lain pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Kondisi ini menegaskan bahwa kenaikan beruntun hingga batas auto reject atas dapat diikuti pembalikan harga yang tajam.

Enam Saham Ditutup di Zona Merah

Data Money Kompas menunjukkan JELI dan PRDL mencatat penurunan harian terdalam pada akhir pekan tersebut. Namun, kinerja sejak IPO tidak seragam karena beberapa saham masih berada jauh di atas harga saat pertama melantai.

Saham Penutupan Jumat Perubahan Harian Kinerja Sejak IPO
JELI Rp 895 Turun 10,95 persen Turun 0,56 persen
PRDL Rp 386 Turun 11,47 persen Naik 221,67 persen
JECX Rp 1.315 Turun 1,13 persen Naik 5,20 persen
EMMI Rp 448 Turun 2,61 persen Turun 4,68 persen
BACH Rp 540 Turun 4,42 persen Naik 22,17 persen
RANS Rp 250 Turun 1,57 persen Naik 47,06 persen

JELI menutup perdagangan di Rp 895 atau turun 10,95 persen dalam sehari. Sejak IPO pada 7 Juli 2026, penurunannya masih terbatas sebesar 0,56 persen.

PRDL melemah 11,47 persen menjadi Rp 386 setelah bergerak dari kisaran Rp 458 dan sempat menyentuh Rp 382. Meski terkoreksi pada Jumat, saham ini masih membukukan kenaikan 77,06 persen dalam sepekan.

JECX turun 1,13 persen ke Rp 1.315 dan mencatat penurunan 8,04 persen sepanjang sepekan. EMMI ditutup pada Rp 448 setelah sempat turun hingga Rp 434 dalam perdagangan harian.

BACH berakhir di Rp 540 setelah terkoreksi 4,42 persen, tetapi masih naik 8 persen dalam sepekan. RANS turun 1,57 persen ke Rp 250 dengan rentang pergerakan harian antara Rp 244 dan Rp 268.

Lonjakan Awal Membawa Risiko Lebih Besar

Antusiasme terhadap saham IPO biasanya meningkat ketika penawaran perdana mengalami kelebihan permintaan. Pasokan saham yang terbatas kemudian dapat mendorong harga naik agresif pada hari-hari awal perdagangan.

Dalam situasi tersebut, saham bisa menyentuh batas Auto Reject Atas secara beruntun. Kenaikan yang sangat cepat juga membuat pembeli yang masuk pada harga tinggi menghadapi risiko lebih besar saat minat pasar mulai mereda.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT, Imam Gunadi, menilai pendekatan fundamental sulit diterapkan pada banyak emiten yang baru melantai. Saham baru umumnya diperdagangkan pada valuasi yang relatif premium.

Menurut Imam, kondisi tersebut membuat saham IPO kurang ideal bagi investor dengan orientasi jangka panjang. Investor masih dapat menemukan emiten lain di bursa yang diperdagangkan lebih murah atau berada di bawah nilai wajarnya.

Teknikal dan Aliran Dana Jadi Perhatian

Investor yang tetap ingin memperdagangkan saham IPO dapat mempertimbangkan analisis teknikal dan money flow. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk membaca saham yang belum memiliki riwayat perdagangan panjang di bursa.

Arah dana dari pelaku pasar besar juga perlu dicermati. Akumulasi dana oleh pelaku besar dapat menjadi salah satu sinyal bahwa harga saham masih berpeluang melanjutkan penguatan.

Meski demikian, sinyal akumulasi tidak serta-merta menghapus risiko koreksi. Posisi harga saat pembelian tetap perlu dibandingkan dengan potensi imbal hasil dan risiko yang harus ditanggung.

Pergerakan saham IPO yang cepat dapat membuka peluang transaksi, tetapi juga meningkatkan potensi kerugian bagi pembeli yang mengejar reli. Riset mandiri serta pengelolaan risiko tetap diperlukan sebelum mengambil keputusan investasi.

Source: money.kompas.com
Berita Terbaru