Samsung Dan Apple Masih Bertahan, Pasar HP Dunia Susut 4,1% Di Tengah Krisis Memori

Samsung masih memimpin pasar ponsel global saat industri justru sedang melambat. IDC memperkirakan pengapalan Samsung mencapai 62,8 juta unit dengan pangsa pasar 21,7%, cukup untuk menjaga posisinya di puncak meski pasar dunia turun 4,1%.

Di saat yang sama, Apple terus mengejar dari belakang dengan selisih yang sangat tipis. Perusahaan itu mencatat pengapalan 61,1 juta unit dan menguasai 19,6% pangsa pasar, didorong minat terhadap iPhone 17 series yang disebut masih kuat, terutama di China.

Kondisi pasar secara umum memang sedang tidak mudah. Pada kuartal pertama 2026, pengapalan smartphone global hanya mencapai 289,7 juta unit, dan IDC menilai krisis memori menjadi salah satu faktor utama yang menekan industri.

Tekanan itu datang dari sisi pasokan komponen yang makin sempit. Saat memori sulit didapat, biaya produksi ikut naik dan produsen harus menyesuaikan strategi harga, sementara permintaan di beberapa segmen juga ikut melemah.

Samsung dan Apple masih paling tahan

Di tengah perlambatan tersebut, Samsung dan Apple menjadi dua merek besar yang masih mampu mencatat pertumbuhan positif. IDC menilai daya tahan keduanya menunjukkan bahwa segmen premium masih lebih kuat dibandingkan kelas lain ketika ongkos komponen naik.

Samsung disebut masih terbantu oleh permintaan terhadap Galaxy S26 Ultra. Kehadiran Galaxy A57 dan Galaxy A37 juga dinilai penting untuk menjaga momentum penjualan perusahaan di tengah pasar yang menantang.

Selisih Samsung dan Apple memang tipis, tetapi keduanya sama-sama bertahan di atas ketika lima pemain besar lain menghadapi tekanan lebih berat. Gambaran ini memperlihatkan bahwa pembeli di kelas premium masih relatif lebih tidak sensitif terhadap kenaikan harga dibandingkan konsumen di segmen bawah.

Segmen bawah paling rentan

Berbeda dengan kelas premium, pasar perangkat di bawah USD 200 diperkirakan akan menghadapi tantangan paling berat. IDC menyebut pilihan konsumen di segmen ini bisa menyempit karena harga memori yang naik memaksa produsen menahan peluncuran atau menaikkan harga jual.

Anthony Scarsella, Research Director for Mobile Phones IDC, menyebut penurunan 4,1% pada kuartal pertama ini baru menjadi awal dari tantangan yang lebih besar. Ia menilai pasar negara maju seperti Amerika Serikat masih lebih tahan terhadap kenaikan harga karena ditopang model premium, insentif tukar tambah, dan skema pembiayaan.

Namun, bagi produsen di kelas harga rendah, ruang untuk menjaga harga tetap kompetitif semakin terbatas. Saat biaya bahan baku komponen lain juga meningkat, produk bermargin tipis menjadi makin berisiko untuk diluncurkan.

Peta lima besar tetap dikuasai pemain utama

Di bawah dua pemimpin pasar itu, Xiaomi menempati posisi ketiga dengan pengapalan 33,8 juta unit. Angka tersebut turun sekitar 8 juta unit dibandingkan kuartal pertama 2025, menandakan tekanan yang cukup terasa pada salah satu pemain terbesar di pasar global.

Oppo menyusul di posisi keempat dengan 30,7 juta unit dan pangsa pasar 10%. Vivo berada di urutan kelima setelah mengapalkan 21,2 juta perangkat dengan pangsa pasar 7,5%.

Komposisi ini menunjukkan bahwa pasar smartphone masih sangat terkonsentrasi pada beberapa merek besar. Berikut ringkasan lima vendor terbesar menurut IDC: Samsung 62,8 juta unit, Apple 61,1 juta unit, Xiaomi 33,8 juta unit, Oppo 30,7 juta unit, dan Vivo 21,2 juta unit.

IDC juga memperkirakan harga jual rata-rata atau ASP akan terdorong naik seiring krisis memori yang belum mereda. Lembaga riset itu menilai stabilisasi harga memori baru kemungkinan terjadi pada paruh kedua 2027, sehingga industri masih harus menghadapi tekanan dari pasokan komponen, harga perangkat, dan daya beli konsumen dalam waktu yang cukup panjang.

Source: inet.detik.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer