Samsung Kian Jauh Di Puncak, Apple Masih Mengejar Di Tengah Pasar Yang Cuma Tumbuh 1 Persen

Author: Redaksi Android62

Samsung berhasil menjaga jarak di pasar smartphone global saat industri hanya bergerak tipis pada kuartal I-2026. Perusahaan asal Korea Selatan itu mengirim 65,4 juta unit dan meraih pangsa pasar 22 persen, tertinggi di antara para pesaing utamanya.

Kinerja tersebut membuat Samsung tetap nyaman di puncak, meski pasar secara keseluruhan belum menunjukkan lonjakan besar. Omdia mencatat pengiriman ponsel pintar dunia sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 298,5 juta unit, naik tipis dari 296,9 juta unit pada kuartal I-2025.

Yang menarik, kenaikan Samsung tidak hanya bertumpu pada satu lini produk. Omdia menilai permintaan kuat datang dari seri Galaxy A di pasar berkembang, sementara Galaxy S26 juga mencatat minat tinggi di berbagai wilayah.

Apple berada di posisi kedua dengan 60,4 juta unit dan pangsa pasar 20 persen. Perusahaan asal Cupertino itu justru mencatat pertumbuhan yang lebih cepat, yaitu 10 persen secara tahunan, berkat penjualan iPhone 17 dan iPhone 17e.

Peta persaingan di belakang dua besar

Di posisi berikutnya, Xiaomi mencatat 33,8 juta unit pengiriman, tetapi hasilnya turun tajam 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasarnya ikut menyusut menjadi 11 persen.

Tekanan terbesar Xiaomi datang dari ketergantungan pada ponsel murah di bawah 200 dolar AS. Segmen ini paling terdampak oleh kenaikan harga komponen global yang masih bergejolak.

Oppo dan Vivo juga belum lepas dari tekanan. Oppo turun 6 persen, sedangkan Vivo melemah 7 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan pasar yang belum sepenuhnya sehat

Meski angka 1 persen terlihat kecil, Omdia menilai hasil itu masih lebih baik dari perkiraan awal pelaku industri. Namun, penguatan pasar tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan dari konsumen.

Menurut analis Omdia, Le Xuan Chiew, kenaikan shipment jangka pendek banyak didorong oleh front-loading dari vendor dan kanal distribusi. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga komponen penting seperti chipset dan memori.

Dampaknya, pengiriman memang naik dalam waktu singkat. Di sisi lain, stok berlebih berisiko menekan kuartal berikutnya.

Omdia juga menekankan bahwa angka yang dihitung adalah pengiriman dari produsen ke distributor atau sell-in, bukan penjualan nyata ke tangan konsumen. Karena itu, hasilnya bisa berbeda dengan firma riset lain seperti IDC dan Counterpoint.

Tekanan ekonomi masih membayangi

Selain persoalan pasokan, kondisi ekonomi global juga ikut menahan laju belanja. Inflasi tinggi membuat perangkat non-prioritas tidak menjadi pilihan utama bagi banyak konsumen.

Situasi ini membuat siklus penggantian ponsel menjadi lebih panjang dari biasanya. Analis Omdia, Runar Bjorhovde, menyebut pasar smartphone kini berada dalam periode disrupsi struktural.

Ia menilai tekanan dari sisi pasokan masih akan terus memengaruhi dinamika industri hingga dua tahun ke depan. Dalam kondisi seperti itu, keberhasilan Samsung di kuartal I-2026 menunjukkan bagaimana kombinasi kekuatan di segmen menengah dan flagship masih bisa memberi hasil paling solid di tengah pasar yang bergerak sangat pelan.

Berita Terbaru