Samsung Kian Kokoh Di Puncak Pasar Smartphone Dunia, Apple Masih Mengejar Di Kelas Premium

Persaingan smartphone global pada 2025 masih dipimpin Samsung, yang menguasai 22 persen pasar dunia. Omdia mencatat perusahaan asal Korea Selatan itu mengirimkan 65,4 juta unit dan mencatat pertumbuhan tahunan sekitar 8 persen.

Lonjakan itu menunjukkan Samsung kembali menemukan tenaga di pasar internasional. Dorongan terbesarnya datang dari minat konsumen terhadap lini flagship, terutama Galaxy S26 dengan varian Ultra yang disebut paling populer.

Kekuatan Samsung tidak hanya bertumpu pada satu lini produk. Perusahaan ini memiliki portofolio yang sangat beragam, mulai dari ponsel kelas bawah, perangkat lipat, hingga model flagship.

Kombinasi tersebut membuat Samsung bisa menjangkau lebih banyak kelompok pembeli. Strategi itu juga membantu perusahaan menjaga volume pengiriman tetap tinggi di tengah persaingan yang ketat.

Di sisi lain, Apple masih menjadi lawan terdekat Samsung di kelas premium. Namun, perusahaan asal Amerika Serikat itu belum mampu menyalip Samsung secara keseluruhan di pasar smartphone global.

Omdia mencatat Apple mengirimkan 60,4 juta unit iPhone dengan pangsa pasar 20 persen. Selisih yang tipis ini menunjukkan bahwa perebutan posisi teratas masih berlangsung ketat, terutama di segmen atas.

Persaingan rapat di lima besar

Di belakang dua pemimpin pasar tersebut, Xiaomi menempati posisi ketiga dalam pengiriman global. Namun, pengirimannya turun 19 persen secara tahunan menjadi 33,8 juta unit.

Oppo dan Vivo menyusul di bawah Xiaomi dengan penurunan masing-masing sekitar 6 persen dan 7 persen. Oppo mencatat pengiriman 30,7 juta unit dengan pangsa 10 persen, sedangkan Vivo mencapai 21,3 juta unit dan pangsa 7 persen.

Urutan ini memperlihatkan bahwa papan atas pasar smartphone masih bergerak rapat. Samsung memang unggul jauh di posisi pertama, tetapi para pesaingnya tetap menjaga tekanan di berbagai segmen.

Kuat di Asia Tenggara

Dominasi Samsung juga terlihat di Asia Tenggara, salah satu kawasan penting untuk perebutan volume penjualan. Pada 2025, Samsung menguasai sekitar 18 persen pangsa pasar di kawasan tersebut dengan total pengiriman 17,9 juta unit.

Pencapaian itu banyak ditopang strategi pemasaran seri Galaxy A. Langkah ini membantu Samsung tetap kompetitif di pasar yang sensitif terhadap harga, tetapi tetap mencari perangkat dengan fitur lengkap.

Kawasan Asia Tenggara sendiri menjadi medan persaingan yang penting bagi banyak merek. Samsung mampu menjaga posisi kuat di tengah penawaran agresif dari para pesaingnya.

Tekanan industri belum mereda

Meski Samsung berada di puncak, pasar smartphone global belum sepenuhnya pulih. Omdia menyebut pertumbuhan pasar smartphone global hanya sekitar 1 persen pada kuartal pertama 2026.

Industri juga menghadapi tekanan dari fluktuasi harga komponen vital, terutama kenaikan harga chip memori. Kondisi itu membuat produsen perlu lebih berhati-hati dalam menjaga margin sambil mempertahankan pengiriman.

Pada saat yang sama, produsen asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo terus memperluas langkah agresif di negara-negara berkembang. Ekspansi itu berpotensi menambah tekanan persaingan, terutama di segmen menengah yang menjadi arena utama perebutan pasar.

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait