Garis Putih pada Sapi Bukan Hiasan, Riset Ini Membuat Lalat Lebih Sulit Mendarat

Author: Redaksi Android62

Garis putih vertikal pada tubuh sapi hitam terbukti dapat mengurangi jumlah lalat pengisap darah yang hinggap. Temuan ini menunjukkan corak menyerupai zebra berpotensi menjadi cara nonkimia untuk mengurangi gangguan serangga pada ternak.

Efek tersebut bukan sekadar perubahan tampilan. Sapi bercorak putih juga lebih jarang melakukan sentakan kepala, hentakan kaki, dan kibasan ekor untuk mengusir lalat.

Gangguan Visual bagi Lalat

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof Upik Kesumawati, menjelaskan pola hitam-putih dapat menciptakan ilusi optik bagi serangga. Lalat dapat keliru memperkirakan jarak serta kecepatan, sehingga proses pendaratan di tubuh sapi menjadi lebih sulit.

Pola ini dinilai lebih relevan untuk lalat pengisap darah yang aktif pada siang hari. Nyamuk dan agas yang lebih aktif pada malam hari lebih mengandalkan petunjuk kimia serta panas tubuh inang, sehingga pengaruh corak zebra diperkirakan lebih kecil.

Lalat kandang Stomoxys calcitrans dan lalat tanduk Haematobia exigua termasuk serangga yang dapat mengganggu ternak. Gigitannya dapat menimbulkan rasa sakit, sementara kedua jenis lalat itu juga berpotensi berperan sebagai vektor penyakit.

Pengujian pada Sapi Hitam

Tim peneliti Jepang yang dipimpin Tomoki Kojima dari Aichi Agricultural Research Center menguji efek corak tersebut pada sapi hitam. Warna itu umum digunakan pada sapi Wagyu, sehingga garis putih tampak kontras seperti pola zebra.

Penelitian memakai tiga kondisi perlakuan untuk membandingkan pengaruh warna garis. Setiap sapi menjalani seluruh kondisi secara bergiliran dan pengujian kemudian diulang.

Kondisi Perlakuan Fungsi dalam Pengujian
Corak zebra Garis putih vertikal pada tubuh hitam Mengukur efek pola kontras
Garis hitam Garis hitam pada tubuh sapi Pembanding corak putih
Tanpa corak Tidak diberi cat Pembanding kondisi alami

Cat diperbarui setiap pagi selama tiga hari berturut-turut. Pengecatan dilakukan bebas tangan dan membutuhkan sekitar lima menit untuk setiap sapi.

Pengamatan dilakukan selama 30 menit pada pagi dan sore hari. Pada akhir sesi, peneliti memotret tubuh serta kaki sapi untuk menghitung lalat yang hinggap.

Tim juga mencatat perilaku sapi saat terganggu serangga. Parameter yang dihitung mencakup sentakan kepala, hentakan kaki, dan kibasan ekor sebagai respons mengusir lalat.

Setelah dua kali pengulangan, tim menambahkan tiga sapi hitam lain pada tahun berikutnya. Penambahan itu dilakukan untuk memperbesar jumlah sampel pengujian.

Berujung pada Ig Nobel Biologi

Penelitian tersebut membawa tim Kojima meraih Ig Nobel Prize bidang biologi ke-35. Penghargaan itu diumumkan pada 18 September 2025 oleh Annals of Improbable Research.

Ig Nobel diberikan kepada riset yang “membuat orang tertawa, lalu berpikir”. Meski berbeda dari Nobel, kajian sapi bercorak zebra ini merupakan penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan.

Gagasan riset Kojima muncul setelah ia menyaksikan tayangan televisi tentang berbagai hipotesis fungsi garis zebra. Ia lalu menemukan studi ahli biologi evolusi University of Bristol, Tim Caro, yang mengaitkan pola zebra dengan gangguan serangga.

Studi Caro pada 2014 membandingkan garis zebra dengan faktor seperti iklim, predator besar, dan keberadaan hama. Hasilnya mengarah pada dugaan bahwa garis tersebut terutama berevolusi untuk membantu menghindari serangga.

Alternatif yang Masih Perlu Diuji

Pendekatan corak zebra membuka peluang pengendalian hama ternak tanpa terlalu bergantung pada insektisida kimia. Namun, penerapannya secara luas masih memerlukan pengujian bahan, ketahanan, ukuran pola, dan biaya.

Prof Upik juga menyoroti keamanan cat bagi ternak serta ketahanan material dalam iklim tropis. Faktor tersebut penting sebelum metode ini digunakan secara rutin di peternakan.

IPB University pernah mengembangkan MANCEZ, yakni mantel bermotif zebra untuk sapi, melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta pada 2021. Berdasarkan pengujiannya, mantel itu menurunkan gigitan Stomoxys calcitrans sekitar 50 persen serta disebut membantu menjaga kenyamanan suhu tubuh sapi.

Berita Terbaru