Hutan Alami di Danau Toba Susut 29 Persen, PLTA Ikut Mengubah Dinamika Air

Author: Redaksi Android62

Penyusutan hutan alami di kawasan Danau Toba mencapai sekitar 29 persen sepanjang 1988 hingga 2020. Bersamaan dengan pemanfaatan air untuk pembangkit listrik tenaga air atau PLTA, perubahan tutupan lahan ini dinilai ikut memengaruhi cadangan air dan dinamika muka danau.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menunjukkan penurunan muka air Danau Toba tidak dapat dijelaskan hanya melalui perubahan iklim. Aktivitas manusia semakin terlihat pengaruhnya, terutama setelah bendungan dan pembangkit listrik mulai beroperasi.

Hutan Berkurang, Daya Simpan Air Melemah

Analisis citra satelit BRIN memperlihatkan hutan tanaman bertambah signifikan saat hutan alami menyusut. Permukiman dan lahan pertanian di kawasan tangkapan air juga terus meluas dalam periode yang sama.

Perubahan tersebut diperkirakan melemahkan kemampuan kawasan tangkapan air untuk menyerap serta menyimpan air hujan. Akibatnya, perubahan curah hujan dapat memberi pengaruh lebih besar terhadap naik-turunnya muka air Danau Toba.

Kawasan tangkapan air memiliki peran penting dalam menjaga pasokan air yang masuk ke danau. Karena itu, perubahan tata guna lahan tidak hanya berkaitan dengan kondisi daratan, tetapi juga dengan kestabilan air danau.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Hendri, menyebut perubahan penggunaan lahan turut berkontribusi terhadap perubahan cadangan air Danau Toba. Ia menilai dinamika danau terbentuk oleh interaksi banyak faktor, bukan satu penyebab tunggal.

Operasional PLTA Lebih Dominan

BRIN menilai penggunaan air untuk operasional PLTA memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan aktivitas domestik masyarakat. Hendri menyatakan, “Penggunaan air untuk operasional PLTA memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan aktivitas domestik masyarakat.”

Pengaruh kegiatan manusia menjadi semakin penting setelah Bendungan Sigura-gura dan pembangkit listrik tenaga air mulai beroperasi. Perubahan ini menjadi alasan untuk membedakan pembacaan kondisi Danau Toba sebelum dan sesudah 1984.

Periode Tren Muka Air Faktor yang Menonjol
1957–1984 Turun sekitar 22 milimeter per tahun Variabilitas iklim, terutama El Niño
Setelah 1984 Turun sekitar 2 milimeter per tahun PLTA, tata guna lahan, dan iklim

1984 Menjadi Titik Perubahan

Hendri menganalisis data tinggi muka air Danau Toba dari 1957 hingga 2020 dan menemukan perubahan karakter dinamika pada 1984. Tahun itu bertepatan dengan mulai beroperasinya Bendungan Sigura-gura dan pembangkit listrik tenaga air.

Pada periode 1957 sampai 1984, muka air danau turun rata-rata sekitar 22 milimeter per tahun. Penurunan tersebut terutama dikaitkan dengan El Niño yang mengurangi curah hujan di daerah tangkapan air.

Setelah 1984, laju penurunan rata-rata menjadi sekitar 2 milimeter per tahun. Meski tren jangka panjangnya lebih stabil, tinggi muka air Danau Toba tetap berfluktuasi dari tahun ke tahun.

Penurunan yang cukup ekstrem tercatat pada 1987, 1990, 1998, dan 2016. Menurut paparan Hendri yang dikutip Kompas.com, kondisi itu berkaitan dengan gabungan El Niño dan Indian Ocean Dipole atau IOD positif.

Kebijakan Perlu Melihat Seluruh Faktor

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman mengatakan penelitian ini penting untuk memahami dinamika salah satu danau vulkanik terbesar di dunia. Hasil riset diharapkan dapat menjadi rujukan pengelolaan kawasan yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Menurut Albertus, penurunan muka air Danau Toba selama ini kerap hanya dikaitkan dengan perubahan iklim. Padahal, persoalannya melibatkan hubungan antara iklim, pemanfaatan air, dan perubahan penggunaan lahan.

Pengelolaan Danau Toba karena itu tidak cukup bertumpu pada langkah adaptasi iklim. Tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya air perlu dikelola secara lebih bijaksana agar fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial danau tetap terjaga.

Berita Terbaru