Sejumlah wilayah di Indonesia masih masuk kategori siaga karena hujan lebat berpotensi terjadi hingga 21 Mei. BMKG menyebut kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan tetap didominasi hujan ringan sampai hujan lebat, sehingga masyarakat diminta tidak lengah meski suhu di beberapa daerah sempat terasa sangat panas.
Peringatan ini muncul di tengah masa peralihan musim yang membuat cuaca sulit ditebak. Suhu maksimum yang sempat menembus lebih dari 36 derajat Celcius ternyata tidak otomatis membuat udara menjadi kering, karena kelembapan masih cukup tinggi untuk memicu pertumbuhan awan hujan.
Wilayah siaga dan potensi cuaca ekstrem
Untuk periode 15 hingga 17 Mei 2026, potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang masuk status siaga di sejumlah wilayah. Daerah yang perlu mencermati kondisi ini antara lain Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG juga memprediksi angin kencang dapat terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur. Pada periode berikutnya, 18 hingga 21 Mei 2026, intensitas hujan secara umum diperkirakan menurun menjadi hujan ringan hingga hujan sedang, tetapi status siaga belum hilang sepenuhnya.
Pada rentang 18 hingga 21 Mei itu, hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang masih berpotensi terjadi di Maluku Utara, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Artinya, meski peluang cuaca ekstrem menyempit di sebagian wilayah, kewaspadaan tetap dibutuhkan.
Panas bukan berarti langit aman dari hujan
BMKG menekankan bahwa cuaca panas yang sempat tercatat di beberapa wilayah tidak bisa dijadikan patokan bahwa hujan akan hilang. Pada 11 hingga 13 Mei 2026, suhu maksimum di Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur terukur di atas 36 hingga 37,1 derajat Celcius.
Namun, jika udara masih lembap, awan hujan tetap bisa tumbuh dengan mudah, terutama pada sore hingga malam hari. Dalam situasi seperti ini, hujan lebat hingga sangat lebat masih mungkin muncul di beberapa daerah.
Kondisi itu juga tercermin dari data curah hujan yang masih tinggi di sejumlah wilayah. Sulawesi Barat mencatat curah hujan tertinggi sebesar 139 mm per hari, disusul Sulawesi Tenggara 81,4 mm per hari dan Papua Barat 80 mm per hari.
Selain itu, Papua Tengah tercatat 71 mm per hari, Sumatra Barat 70,9 mm per hari, Kalimantan Barat 66,3 mm per hari, Papua Pegunungan 62,4 mm per hari, dan Kalimantan Tengah 57,4 mm per hari. Angka-angka ini menunjukkan bahwa hujan masih aktif di banyak wilayah meski sebagian daerah sedang mengalami panas tinggi.
Fenomena atmosfer yang ikut mendorong hujan
BMKG menjelaskan bahwa curah hujan tinggi tersebut dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer yang bekerja bersamaan. Monsun Australia diperkirakan sedikit melemah seiring meningkatnya aktivitas Medan Julian Oscillation atau MJO di wilayah Samudra Hindia.
Aktivitas MJO itu diperkirakan melintasi sebagian Sumatera, Jawa, Sulawesi bagian selatan, hingga Papua. Di saat yang sama, gelombang tropis juga ikut meningkatkan peluang hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sementara itu, gelombang Rossby Equatorial diperkirakan memengaruhi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di sekitar Selat Karimata dan Selat Makassar bagian selatan. Kondisi ini dapat memicu pertemuan angin dan membantu pembentukan awan hujan di wilayah sekitarnya.
Dengan dinamika atmosfer yang masih aktif, BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
Source: www.idntimes.com






