Di tengah padatnya persaingan kedai kopi, Sekata Kopi memilih jalan yang berbeda. Usaha ini tidak menonjolkan perang harga, melainkan membangun tempat yang membuat pelanggan merasa nyaman untuk kembali.
Konsep itu menjadi alasan utama Sekata Kopi bertahan dan tumbuh di pasar yang semakin ketat. Bagi pendirinya, Muhammad David, daya saing kedai kopi kini tidak cukup bertumpu pada rasa minuman, tetapi juga pada pengalaman ruang yang menyentuh sisi emosional pelanggan.
Pengalaman yang Dibangun Sejak Pelanggan Masuk
David melihat coffee shop sudah bergeser fungsi menjadi ruang untuk bekerja, bertemu teman, hingga mencari suasana yang tenang. Karena itu, Sekata Kopi dirancang agar terasa hangat dan akrab sejak pengunjung melangkah masuk.
Barista disiapkan untuk menyambut pelanggan dengan cara yang personal. Pendekatan ini membuat suasana kedai tidak terasa kaku dan memberi kesan seperti berada di rumah sendiri.
Riset Menjadi Dasar Sebelum Membuka Usaha
Sebelum memulai bisnis, David melakukan riset ke 15 coffee shop di Jakarta dan lima coffee shop di Medan. Langkah itu ia ambil untuk memahami model usaha yang efisien namun tetap memiliki konsep yang kuat.
Dari riset tersebut, Sekata Kopi kemudian dibangun dengan modal di bawah Rp150 juta. Pilihan itu menunjukkan bahwa menurut David, bisnis makanan dan minuman tidak selalu membutuhkan modal besar, selama konsep dan risetnya matang.
Komunitas Ikut Menguatkan Pelanggan Loyal
Strategi rumah kedua juga membantu Sekata Kopi membangun kedekatan dengan pengunjung. Banyak pelanggan datang berulang bukan hanya untuk membeli kopi, tetapi juga untuk berkumpul dan berinteraksi di tempat yang terasa nyaman.
Kedai ini bahkan berkembang menjadi ruang kegiatan bagi berbagai komunitas. Komunitas olahraga hingga kelompok kreatif disebut rutin memanfaatkan Sekata Kopi untuk aktivitas mereka.
Menyesuaikan Diri dengan Kebiasaan Konsumen
Selain mengandalkan suasana, Sekata Kopi juga menyesuaikan ruangnya dengan perubahan perilaku pelanggan. Salah satu langkahnya adalah menyediakan area khusus bagi pengguna produk tembakau alternatif seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan.
David menilai pilihan itu lebih cocok untuk lingkungan coffee shop karena tidak menimbulkan bau dan asap yang mengganggu pengunjung lain. Ia juga melihat semakin banyak pelanggan yang beralih ke produk tembakau alternatif dibanding rokok konvensional.
Dalam pandangannya, setiap usaha makanan dan minuman memiliki pasar masing-masing. Karena itu, ia tidak melihat coffee shop lain semata-mata sebagai pesaing langsung, melainkan bagian dari ekosistem dengan karakter yang berbeda.
Business Plan Tetap Menjadi Pegangan
David menekankan pentingnya business plan dalam usaha apa pun, termasuk yang dimulai dengan skala kecil. Menurutnya, konsep yang jelas dan eksekusi yang konsisten menjadi pembeda utama di tengah persaingan kedai kopi yang semakin rapat.
Di saat banyak pelaku usaha bersaing lewat menu, harga, atau promosi, Sekata Kopi memilih menguatkan rasa keterikatan pelanggan. Strategi ini menempatkan kedai kopi bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang yang memberi alasan bagi orang untuk datang lagi.
