BI Minta UMKM Naik Kelas Bertahap, Modal Baru Cair Setelah Lulus Tiga Tahap

Author: Redaksi Android62

Bank Indonesia menegaskan pola baru pembinaan UMKM yang tidak lagi menempatkan modal sebagai langkah awal. Dalam program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, pelaku usaha harus melewati tiga tahap penguatan sebelum dukungan usaha diberikan.

Skema tersebut disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo saat Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026. Menurut dia, pendekatan ini dirancang agar UMKM tidak hanya menerima pembiayaan, tetapi juga benar-benar siap menjalankan usaha secara lebih kuat dan terukur.

Modal tidak diberikan di awal

Perbedaan utama program ini terletak pada urutan pembinaannya. BI menempatkan sertifikasi, pengujian usaha, dan praktik lapangan sebagai syarat sebelum modal usaha turun kepada peserta yang dinyatakan lulus.

Perry menilai cara seperti ini lebih tepat untuk membangun pelaku usaha kecil yang siap tumbuh. Dengan alur bertahap, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menghasilkan usaha yang lebih kompetitif dan layak dikembangkan.

Tahap pertama, pendidikan kewirausahaan

Tahap awal berupa pendidikan kewirausahaan yang disertai sertifikasi. Pada fase ini, peserta dibekali kemampuan dasar agar usaha mereka memiliki landasan teknis dan manajerial yang lebih kuat.

Pelatihan tersebut berlangsung sekitar dua setengah bulan. Selama periode itu, peserta dipersiapkan untuk memahami cara menjalankan usaha dengan lebih tertata dan terukur.

Tahap kedua, magang sesuai bidang usaha

Setelah pendidikan, peserta masuk ke tahap uji coba atau magang sesuai bidang masing-masing. BI memberi contoh barista yang ditempatkan di kedai kopi, sedangkan perajin tenun dapat dihubungkan dengan desainer berpengalaman.

Fase ini dimaksudkan sebagai ruang praktik nyata. Perry menegaskan bahwa proses tersebut bukan sekadar teori, melainkan penerapan langsung di lapangan agar kemampuan yang dipelajari benar-benar diuji.

Dalam tahap ini, ada dua aspek utama yang diperhatikan. Keduanya ialah penyempurnaan kemampuan teknis usaha dan kemampuan pengembangan bisnis para pelaku UMKM.

Pengujian dilakukan sebelum sertifikasi ulang

Sebelum naik ke tahap berikutnya, peserta akan dievaluasi untuk memastikan teori dan praktik berjalan selaras. Evaluasi ini penting agar usaha yang dibangun tidak hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi juga siap dijalankan secara nyata.

BI juga mencontohkan bentuk pengujian yang lebih spesifik. Untuk barista, misalnya, hasil racikan kopi harus sesuai pesanan dan standar usaha, sementara UMKM air minum dalam kemasan diuji dari proses pengolahan, kualitas air, kemasan, hingga aspek kehalalan.

Tahap akhir menentukan akses modal

Jika dinyatakan lulus, peserta akan kembali mendapat sertifikasi pada tahap akhir. Setelah itu, barulah modal usaha diberikan sebagai bentuk dukungan lanjutan dari program tersebut.

Pola ini menjadi ciri utama transformasi kewirausahaan terpadu yang diusung BI. Melalui urutan pembinaan seperti ini, bank sentral berharap UMKM tidak hanya siap mendapat dana, tetapi juga siap kerja, siap tumbuh, dan lebih tahan bersaing.

Program tersebut juga diarahkan untuk membantu penciptaan lapangan kerja. Dengan usaha kecil yang lebih kuat dan lebih teruji, BI berharap penguatan UMKM dapat memberi dampak lebih luas bagi ekonomi kerakyatan.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru