Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat saling melancarkan serangan di kawasan yang menjadi jalur laut paling strategis itu. Di tengah situasi tersebut, militer Iran mendesak Washington mematuhi perjanjian perdamaian yang diteken pada Juni lalu.
Juru bicara militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, mengatakan kepada televisi nasional Iran IRIB bahwa intervensi Amerika Serikat untuk menciptakan apa yang ia sebut rute ilegal melintasi Selat Hormuz telah memicu ketidakamanan di kawasan. Ia menegaskan angkatan bersenjata Iran akan mempertahankan hak-hak rakyat Iran di selat tersebut.
Iran dan AS saling balas serangan
Dalam perkembangan terbaru, Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan serta instalasi militer milik AS di sejumlah negara Teluk. Serangan itu kemudian dibalas Washington dengan babak ketiga serangan yang menargetkan instalasi radar, rudal, dan drone di Iran selatan.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan itu dilakukan sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. CENTCOM juga menyebut Iran menutup jalur laut strategis tersebut hingga waktu yang tidak ditentukan, sementara satu orang dilaporkan hilang.
| Pihak | Tindakan | Target | Dampak yang disebut |
|---|---|---|---|
| Iran | Serangan rudal dan drone | Pangkalan dan instalasi militer AS di sejumlah negara Teluk | Eskalasi konflik di kawasan |
| AS | Babak ketiga serangan | Instalasi radar, rudal, dan drone di Iran selatan | Balasan atas serangan Iran |
Akraminia juga menyebut militer Iran secara berkala memperbarui daftar sasaran tembaknya. Pernyataan itu menambah nada keras dari Teheran di tengah situasi yang belum mereda setelah rangkaian serangan timbal balik dengan AS.
Selat Hormuz pun kembali berada di titik paling sensitif bagi arus pelayaran dan keamanan regional. Klaim, serangan, dan penutupan jalur laut itu membuat ruang diplomasi terlihat semakin sempit, sementara masing-masing pihak terus menunjukkan kesiapan untuk mempertahankan posisinya.
