Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian setelah Iran memberi sinyal bahwa keamanan pelayaran menjadi salah satu syarat utama dalam balasan atas proposal damai Amerika Serikat. Di saat ketegangan masih tinggi, dua kapal sempat diizinkan melintas di jalur yang selama ini diblokade, memberi sedikit ruang napas di tengah situasi yang tetap rapuh.
Langkah itu belum menandakan keadaan benar-benar membaik. Jalur sempit tersebut tetap memegang peran besar bagi energi global, sehingga setiap perubahan kecil di Hormuz langsung mempengaruhi kalkulasi politik, militer, dan perdagangan di kawasan.
Iran menaruh dua isu paling sensitif di depan
Media pemerintah Iran menyebut Teheran menekankan penghentian perang di semua lini, terutama Lebanon, ketika merespons proposal dari Washington. Iran juga menyoroti keselamatan pengiriman barang melalui selat itu, meski belum menjelaskan bagaimana atau kapan jalur air penting tersebut bisa dibuka kembali.
Proposal Amerika sebelumnya meminta penghentian pertempuran sebelum pembicaraan dimulai mengenai isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam pembahasan ini, kemudian meneruskan respons Iran kepada Washington menurut seorang pejabat Pakistan.
Sampai saat ini belum ada komentar langsung dari pihak Amerika Serikat. Kondisi itu membuat ruang diplomasi masih terbuka, tetapi belum menghasilkan kepastian yang dapat meredakan ketegangan di lapangan.
Hormuz tetap jadi titik tekan utama
Selat Hormuz sejak lama menjadi titik paling rawan dalam konflik ini karena sempit tetapi sangat vital. Sebelum perang, jalur itu membawa seperlima pasokan minyak dunia, dan sekarang posisinya berubah menjadi salah satu alat tekanan paling penting dalam pertarungan yang sedang berlangsung.
Iran selama ini sebagian besar menahan kapal non-Iranian melintas di selat tersebut. Di sisi lain, ancaman terhadap jalur itu tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari udara, sehingga risiko gangguan perdagangan tetap tinggi.
Pada hari Minggu, drone bermusuhan masih terdeteksi di sejumlah negara Teluk. Uni Emirat Arab mengatakan berhasil mencegat dua drone yang datang dari Iran, sementara Kuwait menyebut pertahanan udaranya menangani drone bermusuhan yang memasuki wilayah udaranya.
Qatar juga mengecam serangan drone yang menghantam sebuah kapal kargo asal Abu Dhabi di perairannya. Rangkaian insiden itu menunjukkan bahwa meski ada upaya diplomatik, ancaman terhadap pelayaran dan ekonomi kawasan belum benar-benar reda.
Dua kapal sempat lewat, tetapi tensi belum turun
Di tengah situasi itu, kapal milik QatarEnergy bernama Al Kharaitiyat berhasil melewati selat dengan aman dan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan. Menurut data firma analitik pelayaran Kpler, itu merupakan kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair dan melintasi selat sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Pergerakan kapal itu disebut memberi sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik akibat terhentinya impor gas. Langkah tersebut juga disebut telah disetujui Iran untuk membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, yang sama-sama berperan sebagai mediator.
Selain itu, sebuah kapal curah berbendera Panama yang menuju Brasil dan sempat mencoba melintas pada 4 Mei juga berhasil menyeberang. Iran melalui rute yang ditetapkan angkatan bersenjatanya mengatur lintasan kapal tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.
Konflik lain ikut menjaga suhu tetap tinggi
Ketegangan di sekitar Hormuz juga dipengaruhi serangkaian insiden baru dalam beberapa hari terakhir. Uni Emirat Arab kembali diserang pada Jumat, dan baku tembak sporadis dilaporkan terjadi antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat di selat itu.
Di Lebanon selatan, bentrokan antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran juga belum berhenti meski ada gencatan senjata yang dimediasi Amerika dan diumumkan pada 16 April. Pembicaraan terbaru antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Washington pada 14 Mei.
Situasi ini membuat tekanan politik ikut naik di Washington. Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang menjelang kunjungannya ke China pekan ini, sementara konflik tersebut telah memicu krisis energi global dan menambah risiko bagi ekonomi dunia.
Dukungan internasional masih terbatas
Dalam komentar yang ditayangkan pada hari Minggu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan lawannya “dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka selesai.” Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai perang belum berakhir karena masih ada pekerjaan untuk memindahkan uranium yang diperkaya, membongkar fasilitas pengayaan, serta menghadapi jaringan proksi Iran dan kemampuan rudal balistiknya.
Netanyahu juga mengatakan cara terbaik menghapus uranium yang diperkaya adalah melalui diplomasi, meski ia tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya dengan kekuatan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di media sosial bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk kepada musuh” dan akan “membela kepentingan nasional dengan kekuatan.”
Di tingkat internasional, Amerika Serikat disebut kesulitan memperoleh dukungan luas. Sekutu NATO menolak seruan untuk mengirim kapal demi membuka Selat Hormuz tanpa kesepakatan damai penuh dan misi yang mendapat mandat internasional.
Inggris menyatakan siap membantu misi internasional dan pada Sabtu mengatakan akan mengerahkan kapal perang ke Timur Tengah, mengikuti langkah serupa dari Prancis. Namun Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menilai pengerahan kapal perang Inggris, Prancis, atau negara lain di sekitar Hormuz dengan dalih melindungi pengiriman barang akan dianggap sebagai eskalasi dan akan dihadapi dengan kekuatan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengatakan negaranya siap membantu misi internasional, tetapi Prancis “tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz.” Di tengah pernyataan yang saling berhadapan itu, jalur diplomasi tetap berjalan, sementara Selat Hormuz terus menjadi titik paling menentukan bagi perang, energi, dan keamanan kawasan.
