Selat Hormuz Memanas Lagi, AS Serang Radar Pesisir Iran Usai Tembak Jatuh Drone

Author: Redaksi Android62

Langkah militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz kembali memanaskan situasi setelah empat drone Iran ditembak jatuh saat mendekati jalur pelayaran itu. Washington menilai perangkat tersebut sebagai ancaman langsung bagi lalu lintas maritim di salah satu rute paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Tak lama setelah insiden itu, Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan pasukannya menyerang lokasi radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan di Pulau Qeshm. Serangan balasan itu disebut dilakukan untuk mencegah serangan lanjutan, sementara pihak Iran belum memberi tanggapan terbuka atas kejadian tersebut.

Tekanan di titik paling sensitif

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena wilayah ini memegang peran besar dalam arus minyak dan gas alam cair dunia. Sekitar 20 persen pasokan global melewati selat tersebut, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran di pasar energi.

Dalam situasi seperti ini, drone dan radar pantai bukan lagi sekadar aset militer biasa. Keduanya berubah menjadi bagian dari pertarungan yang dapat memengaruhi keamanan pelayaran, stabilitas kawasan, dan arah perhitungan politik di Teluk Persia.

Rangkaian saling balas yang terus melebar

Centcom menyebut ketegangan terbaru berawal dari serangan drone Iran ke bandara internasional Kuwait pada Rabu. Pihak lokal menyatakan satu orang tewas dan lebih dari 60 orang luka-luka dalam insiden itu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC membantah bertanggung jawab atas serangan ke bandara tersebut. IRGC justru menyebut kerusakan terjadi karena kesalahan interceptor rudal milik Amerika Serikat, namun pernyataan itu ditolak oleh Centcom.

Komando militer AS tersebut menyebut serangan ke bandara Kuwait sebagai tindakan yang “sengaja, terencana, dan tidak dapat dibenarkan”. Dari sini, pola saling tuding dan saling serang makin sulit dipisahkan dari eskalasi yang terjadi di perairan sekitar Hormuz.

Balasan di laut dan di darat

Sebelum insiden drone di Hormuz, IRGC mengatakan pihaknya menargetkan pangkalan AS di Teluk sebagai balasan atas serangan AS terhadap sebuah kapal tanker minyak Iran dan Pulau Qeshm. Pola aksi dan balasan ini membuat situasi keamanan di kawasan semakin sulit diprediksi.

AS kemudian mengaitkan rentetan kejadian itu dengan langkah untuk menutup ruang serangan berikutnya. Karena itu, radar pengawasan pantai di Goruk dan Pulau Qeshm menjadi sasaran setelah empat drone Iran berhasil ditembak jatuh saat mendekati selat.

Gencatan senjata yang belum memberi ruang reda

Di tengah meningkatnya ketegangan, negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran disebut mandek. Kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak bergerak maju, sementara serangan terus berlanjut di kawasan.

Kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari serangan besar yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu konflik yang meluas di seluruh Timur Tengah, lalu Iran membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.

Tak lama setelah gencatan senjata disepakati pada awal April, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump mengatakan blokade itu akan tetap berlaku “dalam kekuatan penuh dan efek” sampai ada kesepakatan yang tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.

Dengan drone di udara, radar pantai di darat, dan jalur pelayaran strategis di laut sama-sama menjadi target, insiden di Hormuz kini berdiri sebagai bagian dari konflik yang lebih luas. Setiap serangan balasan berpotensi membuka putaran baru ketegangan, baik di laut maupun di meja perundingan yang belum menghasilkan terobosan.

Berita Terbaru