Selat Malaka Disorot, Kepri Ingin Ubah Jalur Tersibuk Dunia Jadi Mesin Ekonomi

Selat Malaka kembali menjadi pusat perhatian karena dinilai bisa memberi keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar bagi Kepulauan Riau. Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan jalur itu sebagai salah satu dari 10 checkpoint dunia, dengan sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer melintas setiap tahun.

Di tengah arus perdagangan sebesar itu, pemerintah daerah melihat peluang agar Kepri tidak hanya menjadi wilayah lintasan, tetapi juga ikut menikmati nilai tambah dari aktivitas logistik, investasi, dan jasa. Posisi ini dianggap penting karena Kepri berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, dua tetangga yang selama ini lebih dulu memaksimalkan keuntungan dari jalur pelayaran internasional tersebut.

Karimun disebut punya posisi paling strategis

Kabupaten Karimun menjadi salah satu wilayah yang paling disorot dalam gagasan Ekonomi Utara yang didorong Fraksi PKS MPR RI. Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring menyampaikan konsep itu dalam Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI Tahun 2026 bertema Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (13/6/2026), seperti dilansir Detik Finance.

Tifatul menilai sejumlah wilayah di utara Indonesia memiliki modal geografis besar untuk menjadi penopang pertumbuhan baru. Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua disebutnya layak menjadi pilar Ekonomi Utara karena berhadapan langsung dengan negara-negara yang total penduduknya lebih dari 3 miliar jiwa.

Karimun dipandang krusial karena letaknya sangat dekat dengan Selat Malaka, salah satu lintasan pelayaran terpadat di dunia. Tifatul menyebut lebih dari 95 persen kapal yang berlayar dari Samudra Pasifik ke Atlantik maupun sebaliknya melewati rute internasional tersebut.

Peluang besar, tetapi manfaatnya belum maksimal

Dalam penjelasannya, Tifatul membandingkan arus peti kemas Singapura dengan Batu Ampar di Batam. Ia menyebut peti kemas Singapura pada 2024 mencapai 41,12 juta TEU dalam satu tahun, lalu naik lagi menjadi 65 juta TEU karena Selat Hormuz ditutup.

Sementara itu, Batu Ampar di Batam menurut dia hanya berada di kisaran 797 ribu TEU per tahun. Perbandingan itu dipakai untuk menunjukkan besarnya ruang yang masih bisa digarap Indonesia dari jalur ekonomi regional yang sama.

Ia menilai Singapura dapat tumbuh pesat karena mampu membaca dan memanfaatkan posisi strategis tersebut. Dengan konteks itu, Tifatul mendorong agar wilayah utara Indonesia tidak lagi hanya melihat jalur laut sebagai pemandangan geografis, melainkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang nyata.

Pariwisata diposisikan sebagai pintu masuk awal

Menurut Tifatul, pembangunan konektivitas transportasi di kawasan utara akan langsung menarik wisatawan dan investor. Ia menilai daya tarik alam di wilayah itu tidak kalah dengan Bali, asalkan akses transportasinya mendukung dan ekosistem pendukungnya terbentuk.

Ia menyebut sejumlah destinasi yang bisa diangkat lebih kuat, mulai dari Danau Toba, Sabang, pantai-pantai di Aceh seperti Lhoknga, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Bunaken, Raja Ampat, hingga Maluku Utara. Karena itu, pariwisata dinilai dapat menjadi mesin awal sebelum sektor lain ikut bergerak.

Dalam pandangannya, Karimun perlu dibangun lewat pariwisata, kuliner, hotel, hiburan, transportasi, dan konektivitas. Ia juga mendorong agar wilayah tersebut memiliki produk yang dapat dipasarkan secara digital, termasuk kuliner khas, kawasan menarik, dan desa wisata.

Tifatul menilai wisata memiliki keunggulan yang cepat terasa di masyarakat karena pengunjung akan membelanjakan uangnya saat datang. Dari sudut pandang itu, pengembangan Karimun diarahkan pada sektor yang bisa segera memutar ekonomi lokal.

Kepri sudah menyiapkan ekosistem usahanya

Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad. Ia menegaskan bahwa posisi Kepri yang berada di jalur perdagangan internasional memberi modal penting untuk masuk lebih jauh ke rantai ekonomi kawasan.

Selain pariwisata, sejumlah kawasan ekonomi khusus di Kepri juga terus dipacu. Di antaranya KEK Bintan Galang Batang untuk industri pengolahan smelter bauksit, KEK Batam Nongsa Digital Park sebagai pusat ekonomi digital dan jembatan IT antara Indonesia dan Singapura, serta KEK Batam Aero Technic untuk layanan perawatan dan perbaikan pesawat.

Masih ada pula KEK Tanjung Sauh untuk sektor produksi, logistik, pengolahan, distribusi, dan energi, serta KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam yang disiapkan menjadi pusat layanan pariwisata medis bertaraf internasional. Deretan kawasan ini menunjukkan bahwa strategi Ekonomi Utara diarahkan bukan hanya pada wisata, tetapi juga pada ekosistem usaha yang saling menopang di sepanjang jalur utara Indonesia.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer