Selisih antara f/1.0 dan f/0.95 ternyata hanya 0,14 stop, jadi perbedaannya nyaris tak terasa dalam pemakaian harian. Namun angka yang tampak kecil itu justru kerap berubah menjadi urusan gengsi, prestise, dan unjuk kemampuan teknis di industri lensa.
Di dunia kamera, f/0.95 sering dipandang sebagai salah satu batas paling ekstrem untuk lensa supercepat. Karena manfaat praktisnya tipis, nilai sebuah lensa seperti ini sering lebih besar pada cerita di balik pembuatannya ketimbang pada tambahan cahaya semata.
Angka kecil, makna besar
Perburuan lensa supercepat memang tidak selalu soal kebutuhan foto yang benar-benar berubah drastis. Dalam banyak kasus, angka ekstrem dipakai sebagai penanda prestasi pabrikan, sekaligus bukti bahwa mereka mampu mendorong batas desain optik lebih jauh.
Itulah sebabnya lensa bertanda f/0.95, f/1.0, atau angka serupa kerap menarik perhatian kolektor dan fotografer. Di atas kertas, selisihnya terlihat tipis, tetapi di baliknya ada reputasi, sejarah, dan kompetisi panjang antarpembuat lensa.
Saat lensa cepat masih langka
Pada era 1950-an, lensa dengan bukaan sangat besar masih tergolong barang langka. Situasi itu mulai berubah ketika Teikoku Kogaku memperkenalkan 5cm f/1.1 di bawah merek Zunow pada 1953, dan lensa tersebut saat itu sudah tergolong sangat mahal.
Lensa itu dibuat untuk dudukan M39, Nikon “S”, dan Contax. Desainnya digarap Michisaburo Hamano, sosok yang sebelumnya bekerja di Nippon Kogaku atau Nikon, dan lensa itu bertahan sebagai yang tercepat untuk kamera 35mm sampai Nikon menyamai kecepatannya lewat 50mm f/1.1 Nikkor pada 1956.
Canon masuk dengan lensa khusus
Lompatan lain datang dari Canon pada 1961 lewat lensa 50mm f/0.95 untuk kamera rangefinder Canon 7. Lensa ini berukuran sangat besar dan berat, sampai Canon harus menambahkan dudukan bayonet tiga kait khusus di sekitar dudukan normal kamera 7 dan 7S agar lensa itu bisa terpasang.
Canon memang merancangnya khusus untuk seri rangefinder tersebut, sehingga tidak ada kamera lain yang cocok dengannya. Meski memiliki aberasi sferis besar dan kontrol flare yang minim, lensa ini tetap diproduksi sampai akhir era rangefinder Canon pada 1971.
Leica dan lensa yang lolos dengan susah payah
Pada 1966, Leica memperkenalkan 50mm f/1.2 Noctilux yang dirancang Helmut Marx dan Paul Sindel. Lensa ini memakai dua elemen asferis yang saat itu hanya bisa dibuat dengan tangan, lalu dipoles manual oleh satu pengrajin ahli bernama Gerd Bergmann.
Leica bahkan baru bisa menguji lensa setelah perakitan selesai, dan perusahaan itu kemudian menemukan hampir 50% unit gagal lolos uji kualitas. Unit yang berhasil justru punya nilai tinggi karena mampu menekan aberasi sferis pada bukaan penuh dan menghasilkan bokeh yang khas.
Produksi lensa tersebut berlangsung sampai 1975 dengan total hanya 1.757 unit. Kelangkaan, kerumitan produksi, dan reputasi optiknya ikut membuat lensa supercepat seperti ini punya daya tarik simbolis yang kuat di mata kolektor.
Zeiss dan lelucon di balik rekor
Pada tahun yang sama, Zeiss juga ikut masuk ke arena melalui Gigantar, lensa yang diklaim sebagai yang tercepat di dunia. Klaim itu ternyata tidak benar, dan justru berubah menjadi bahan humor internal di Zeiss.
Wolf Wehran, kepala hubungan masyarakat Zeiss saat itu, menyadari perusahaan tidak bisa bersaing di area ini karena “throat” dudukan lensanya lebih kecil akibat penggunaan shutter Compur. Ia lalu merakit “Frankenlens” dari lensa kondensor bekas, sisa komponen, dan beberapa bagian baru, lalu menamainya Super-Q-Gigantar untuk dipajang di Photokina dalam kotak kaca terkunci.
Huruf “Q” pada nama itu berarti “quatsch”, yang dalam bahasa Jerman berarti “nonsense”. Meski hanya hoax dan tidak bisa memotret, lensa tunggal itu tetap laku di lelang pada 2011 seharga €60.000 atau $83.000 saat itu.
Mengapa tetap diperebutkan
Fenomena f/0.95 dan f/1.0 menunjukkan bahwa angka apertur paling ekstrem tidak selalu sebanding dengan manfaat praktisnya. Perbedaan daya tangkap cahaya yang sangat kecil membuat lensa seperti ini sering lebih kuat sebagai simbol capaian teknis daripada alat yang mengubah hasil foto secara dramatis.
Karena itu, istilah seperti f/0.95 kerap dipakai untuk membedakan versi lensa, seperti pada Noctilux, atau untuk menunjukkan hak pamer, seperti pada Canon f/0.95. Di pasar kolektor maupun di kalangan pecinta optik, nilai sebuah lensa semacam ini sering lahir dari kisah, kelangkaan, dan gengsi yang menyertainya.
Perkembangan teknik asferis kemudian ikut mengubah peta produksi lensa modern. Kodak menjadi yang pertama menguasai precision moulding untuk elemen lensa asferis pada 1982, lalu Hoya, Schott, Rochester Precision Optics, dan pihak lain ikut memasok elemen asferis cetak yang lebih terjangkau, sehingga lebih banyak lensa bertanda ASP atau ASPH muncul di era modern.







