Perbedaan harga ekspor RBD Olein yang sebelumnya rata-rata melampaui 30% kini disebut mulai menyempit. Perubahan itu terlihat setelah pemerintah membandingkan harga yang dilaporkan eksportir dengan indeks dan harga acuan pasar melalui sistem terintegrasi.
Temuan tersebut menjadi salah satu hasil awal dari konsolidasi data ekspor lintas instansi. Sistem ini dirancang untuk mempercepat penelusuran ketidaksesuaian nilai, volume, pembayaran pungutan, hingga asal pengiriman komoditas.
Harga Pelaporan Dipantau Lebih Ketat
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan jarak antara harga deklarasi eksportir dan harga acuan pada produk kelapa sawit mulai lebih dekat. Produk yang disorot dalam evaluasi awal ini adalah RBD Olein, salah satu produk turunan kelapa sawit.
“Gap yang tadinya average kurang lebih 30% lebih itu, sekarang sudah dengan indeks ini sudah berdekatan. Sudah sangat berdekatan,” ujar Rosan. Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (20/7/2026).
Pemerintah menggunakan indeks untuk melihat apakah nilai yang dilaporkan masih sejalan dengan kondisi pasar. Ketika perbedaan dianggap tidak wajar, sistem dapat menandai data tersebut agar ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang.
Komoditas dalam Evaluasi Awal
| Komoditas | Ruang Lingkup Pemantauan |
|---|---|
| Batu bara | Komoditas utama ekspor |
| Kelapa sawit | Termasuk produk turunannya |
| Ferroalloy | Termasuk produk turunannya |
Selain Ekspor Kelapa Sawit, tahap awal pemantauan mencakup batu bara dan ferroalloy beserta produk turunannya. Tiga kelompok komoditas itu dipilih sebagai fokus awal untuk melihat pola pelaporan ekspor yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Data yang dihimpun tidak hanya memuat nilai transaksi. Platform juga mencatat pelabuhan keberangkatan, volume barang, pembayaran bea, pajak, serta harga yang dideklarasikan oleh eksportir.
Data Lintas Instansi Mulai Tersambung
Integrasi Data Ekspor Terpadu mulai dijalankan pada 1 Juni 2026. Rosan menyatakan bahwa hingga pekan sebelumnya, sistem sudah dapat menarik data dari seluruh instansi atau kementerian yang terlibat.
Sebelumnya, informasi ekspor tersimpan di lembaga masing-masing dan belum terhubung secara menyeluruh. Kondisi itu membuat pemerintah tidak selalu dapat membandingkan data volume, nilai transaksi, pungutan, dan harga dalam satu tampilan.
Instansi yang telah terhubung antara lain Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, serta sejumlah lembaga lain. Keterhubungan itu memungkinkan pencocokan informasi dari tahapan keberangkatan barang hingga pembayaran bea dan pajak.
Rosan menjelaskan sistem dapat mengirimkan peringatan ketika menemukan perbedaan data atau harga yang dinilai tidak wajar. Peringatan tersebut diteruskan kepada Bea Cukai, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, atau Kementerian Perdagangan sesuai jenis temuannya.
Devisa US$ 10,5 Miliar dalam Sorotan
Dalam waktu lebih dari satu bulan, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI disebut telah mengelola devisa ekspor senilai US$ 10,5 miliar. Nilai tersebut menjadi perhatian karena muncul beriringan dengan penerapan sistem konsolidasi data ekspor.
Menurut penjelasan Rosan yang dikutip finance.detik.com, angka itu bukan hanya catatan dari satu lembaga. Integrasi lintas instansi memberi pemerintah dasar data yang lebih lengkap untuk membandingkan pelaporan eksportir dengan indeks pasar dan informasi pungutan yang terkait.
Temuan pada harga RBD Olein menunjukkan manfaat awal pemantauan terpusat tersebut. Perbedaan yang sebelumnya sulit terlihat karena data tersebar kini dapat ditandai lebih cepat melalui satu platform.
Source: finance.detik.com






