Selisih harga Rp 150 juta langsung membuat Jetour T1 punya dua wajah yang sangat berbeda di pasar Indonesia. Di satu sisi ada T1 i-DM sebagai hybrid plug-in, sementara di sisi lain hadir versi bensin yang disiapkan untuk pembeli yang belum ingin masuk ke elektrifikasi.
Perbedaan itu bukan sekadar angka di brosur. Jetour sengaja menempatkan satu model ini untuk menjangkau dua kelompok konsumen yang tingkat kebutuhannya tidak sama, tetapi tetap mencari SUV dengan karakter petualang.
Dua pilihan mesin untuk dua kebutuhan
Langkah Jetour terlihat cukup jelas karena T1 tidak dipasarkan sebagai satu paket teknologi untuk semua orang. T1 i-DM ditujukan bagi konsumen yang ingin merasakan mobil elektrifikasi, sedangkan versi ICE disiapkan untuk pembeli yang lebih nyaman dengan mesin bensin biasa.
Pendekatan ini memberi ruang bagi calon pembeli untuk memilih arah yang paling sesuai dengan penggunaan harian. Konsumen tetap mendapatkan bentuk SUV yang sama, tetapi bisa menentukan sendiri teknologi penggeraknya.
Hybrid plug-in jadi pintu masuk elektrifikasi Jetour
T1 i-DM menjadi mobil hybrid plug-in pertama Jetour di Indonesia. Model ini memakai sistem Intelligent Dual Mode atau i-DM, yang menandai masuknya pabrikan tersebut ke segmen kendaraan elektrifikasi di pasar domestik.
Jetour menempatkan model ini di tengah pasar SUV yang makin selektif. Minat terhadap elektrifikasi memang terus tumbuh, tetapi jarak tempuh, infrastruktur pengisian daya, dan fleksibilitas pemakaian harian masih jadi pertimbangan penting bagi banyak konsumen.
Spesifikasi hybrid dan klaim jarak tempuh
Pada varian hybrid, Jetour T1 i-DM menggunakan mesin bensin 1.500 cc yang dipadukan dengan transmisi hybrid DHT dan baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP. Mesin bensinnya menghasilkan tenaga 136 PS pada 5.200 rpm dan torsi 220 Nm pada 2.500 rpm.
Motor listriknya menyumbang tenaga 204 PS dan torsi 310 Nm. Jetour menyebut kombinasi ini membuat performa tetap responsif sekaligus lebih efisien dibanding kendaraan bermesin konvensional.
Jetour juga mengklaim T1 i-DM bisa menempuh lebih dari 1.200 kilometer saat baterai dan tangki bahan bakar 70 liter sama-sama terisi penuh. Klaim ini menjadi nilai jual penting di tengah keraguan sebagian konsumen terhadap mobil elektrifikasi.
Versi bensin tetap dijaga relevansinya
Di luar varian hybrid, Jetour tetap menyediakan T1 dengan mesin internal combustion engine atau ICE. Opsi ini memakai mesin turbo TGDI 1.500 cc dengan tenaga 170 PS pada 5.500 rpm dan torsi maksimum 270 Nm pada rentang 2.000 hingga 3.500 rpm.
Kehadiran versi bensin membuat T1 tetap relevan untuk konsumen yang ingin SUV bergaya petualang tanpa harus bergantung pada teknologi elektrifikasi. Dengan begitu, Jetour tidak memaksa pasar memilih satu arah saja.
Desain boxy dan dimensi yang mendukung kabin lapang
Dari sisi tampilan, T1 i-DM membawa desain boxy yang sedang diminati pasar. Mobil ini memiliki panjang 4.706 mm, lebar 1.967 mm, tinggi 1.845 mm, jarak sumbu roda 2.800 mm, dan ground clearance 190 mm.
Kombinasi dimensi tersebut mendukung kabin yang lapang. Pada saat yang sama, Jetour tetap membentuk T1 agar terlihat tangguh untuk penggunaan di luar rutinitas kota.
Harga jadi pembeda paling mencolok
Jetour memasarkan T1 i-DM dengan harga Rp 558 juta di Indonesia. Sementara itu, versi mesin bensin dipatok Rp 408 juta, sehingga selisih keduanya mencapai Rp 150 juta.
Untuk 500 konsumen pertama, Jetour memberi harga khusus Rp 538 juta untuk T1 i-DM dan Rp 388 juta untuk versi bensin. Perbedaan banderol ini menegaskan bahwa T1 memang disiapkan sebagai SUV dengan dua jalur pilihan, baik untuk pembeli yang sudah siap elektrifikasi maupun yang masih bertahan di mesin bensin.
Source: www.liputan6.com






