Sebanyak 10 negara Afrika kini berada dalam status siaga satu menyusul meningkatnya risiko penyebaran Ebola lintas batas. Peringatan ini muncul ketika wabah di Republik Demokratik Kongo terus menjadi perhatian serius setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi 101 kasus positif dari lebih dari 900 kasus suspek hingga Minggu (24/5).
Daftar negara yang masuk pantauan ketat meliputi Sudan Selatan, Rwanda, Kenya, Zambia, Republik Afrika Tengah, Tanzania, Ethiopia, Angola, Republik Kongo, dan Burundi. Kedekatan geografis dan mobilitas warga antarwilayah membuat negara-negara itu dinilai lebih rentan terhadap penularan jika deteksi dini melemah.
Ancaman yang muncul tidak lagi dibaca sebagai persoalan satu negara saja. Dengan adanya wabah yang juga terdeteksi di Uganda, pengawasan regional ikut diperketat karena pergerakan penduduk di kawasan perbatasan dapat mempercepat penyebaran penyakit.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti meningkatnya temuan kasus saat pemantauan kesehatan di wilayah itu diperketat. Di sisi lain, Africa CDC menilai risiko regional naik karena penyebaran dapat mengikuti mobilitas penduduk yang melintasi batas negara.
Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC, menegaskan dalam taklimat daring pada Sabtu (23/5) malam bahwa faktor mobilitas menjadi salah satu pemicu utama naiknya risiko regional. Karena itu, pengendalian wabah dinilai tidak cukup dilakukan di satu titik, melainkan harus mengikuti pergerakan warga antarwilayah.
Pengawasan perbatasan diperketat
WHO dan Africa CDC kini bekerja bersama pemerintah di masing-masing negara untuk meningkatkan deteksi dini di pintu masuk perbatasan. Langkah itu dipadukan dengan penguatan kapasitas laboratorium agar pemeriksaan sampel berjalan lebih cepat dan akurat.
Pengawasan di jalur perbatasan dianggap krusial karena penularan lintas negara sulit dikendalikan tanpa sistem deteksi yang kuat. Otoritas kesehatan menempatkan penguatan ini sebagai bagian penting untuk mencegah wabah berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar.
Fokus juga tertuju pada kesiapan tenaga medis
Selain perbatasan, kesiapan tenaga medis menjadi perhatian utama karena penanganan Ebola menuntut respons yang disiplin dan terkoordinasi. Di lapangan, data terus divalidasi oleh tim ahli internasional agar langkah pengendalian tetap tepat sasaran.
Kombinasi antara pemeriksaan dini dan kesiapan fasilitas kesehatan dinilai penting di tengah meningkatnya jumlah kasus. Langkah tersebut dibutuhkan supaya penyebaran bisa ditekan sebelum meluas ke wilayah lain.
Masyarakat di wilayah terdampak maupun di negara yang masuk daftar risiko diminta tetap waspada terhadap gejala Ebola dan segera melapor jika menemukan kasus mencurigakan. Pengendalian yang ketat di lapangan masih menjadi kunci agar wabah ini tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas di kawasan Afrika.
Source: mediaindonesia.com






