Selat Hormuz Kian Panas, Balasan Iran dan Serangan AS Picu Krisis Baru

Author: Redaksi Android62

Iran membalas serangan udara Amerika Serikat dengan menyasar aset militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Sirene peringatan terdengar di sejumlah wilayah, sementara sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil mencegat sebagian rudal dan drone yang diluncurkan.

Langkah balasan itu memperlebar ketegangan yang sudah membesar setelah serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz awal pekan ini. Jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut kini mengalami gangguan serius karena lalu lintas kapal menurun drastis.

Serangan dua malam berturut-turut

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran selama dua malam berturut-turut. Serangan terbaru menghantam sejumlah wilayah di Teheran pada Kamis dini hari, setelah target di kota-kota selatan Iran lebih dulu dibombardir.

Menurut laporan yang beredar, total sekitar 90 target militer disebut telah disasar dalam rangkaian operasi tersebut. Dalam dua hari terakhir, sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas, termasuk anggota Garda Revolusi Iran.

Aspek Rincian
Jumlah target Sekitar 90 target militer
Wilayah terdampak Teheran dan kota-kota di selatan Iran
Korban jiwa Setidaknya 14 orang
Pihak yang disebut terkena Termasuk anggota Garda Revolusi Iran

Alasan yang disampaikan Washington

Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pernyataan resminya, serangan tersebut diklaim dilakukan untuk melindungi kapal komersial dan pelaut sipil.

Di sisi lain, beberapa fasilitas sipil juga disebut terdampak meski belum seluruhnya terverifikasi. Kondisi itu membuat kritik terhadap operasi militer tersebut semakin menguat di tengah situasi yang terus memburuk.

Ruang diplomasi yang makin menyempit

Di tengah eskalasi, Presiden AS Donald Trump memperkeruh ketidakpastian dengan menyebut kesepakatan awal dengan Iran sudah berakhir. Namun, ia masih membuka peluang negosiasi dan mengatakan, “Bagi saya, ini sudah selesai. Tapi mereka masih bisa bicara,” dalam pertemuan NATO.

Trump juga mengklaim Iran tetap ingin mencapai kesepakatan. Sementara itu, Teheran mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.

Iran kemudian melayangkan protes resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam situasi seperti ini, ruang diplomasi tampak semakin sempit, sementara tekanan di Selat Hormuz terus meningkat.

Jalan buntu yang berbahaya

Pengamat menilai konflik ini semakin sulit dikendalikan karena aksi militer justru memancing balasan yang meluas. Analis politik Alam Saleh yang dikutip Suara.com dari AlJazeera menyebut, “AS menghadapi jalan buntu dengan Iran. Pendekatan militer tidak berhasil.”

Pernyataan itu menggambarkan kekhawatiran bahwa pertarungan militer dan gangguan di jalur minyak dunia bisa menyeret kawasan ke fase yang lebih berbahaya. Dengan serangan yang terus berlanjut dan balasan yang meluas, upaya perdamaian kini berada di ujung tanduk.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru