Satu kru berkebangsaan India tewas dalam serangan terhadap dua kapal tanker minyak Uni Emirat Arab di Selat Hormuz, sementara delapan orang lainnya terluka. Insiden yang memicu ketegangan baru di jalur pelayaran strategis itu juga menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal dan kebakaran di tengah perairan yang sangat sensitif secara geopolitik.
Kementerian Pertahanan UEA menyebut kapal tanker tersebut menjadi sasaran di jalur selatan Selat Hormuz saat berada di perairan teritorial Oman. Dari delapan korban luka, empat orang dilaporkan mengalami luka serius, dengan enam korban luka merupakan warga negara India dan dua lainnya warga negara Ukraina.
Dua Kapal ADNOC L&S Terdampak
Kapal yang terdampak diketahui milik ADNOC L&S, anak perusahaan pelayaran Abu Dhabi National Oil Company. Dua tanker minyak mentah super besar, Mombasa B dan Al Bahyah, disebut mengalami kerusakan signifikan saat melintas di selat tersebut.
Anggota kru yang tewas berada di atas kapal Mombasa, sementara serangan itu juga memicu kebakaran yang membuat kerusakan material pada kedua kapal tanker. Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan UEA tetap memiliki hak penuh untuk menanggapi eskalasi ini.
| Kapal | Status | Dampak | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Mombasa B | Diserang di Selat Hormuz | 1 kru tewas, kerusakan material | Milik ADNOC L&S |
| Al Bahyah | Diserang di Selat Hormuz | Kerusakan signifikan, kebakaran | Milik ADNOC L&S |
IRGC Mengklaim Kapal Mengabaikan Peringatan
Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan dua kapal tanker super yang disebutnya “berbuat onar” terkena tembakan dan dinonaktifkan di Selat Hormuz. IRGC menuduh kapal-kapal itu mengabaikan peringatan berulang kali, mematikan sistem navigasi, dan mencoba melewati jalur yang dipenuhi ranjau.
Pernyataan IRGC tidak menyebutkan nama kapal-kapal tersebut dan tidak menjelaskan apakah yang dimaksud adalah kapal yang sama dengan yang disebut Kementerian Pertahanan UEA. Lembaga itu juga menuduh Amerika Serikat menghasut kapal untuk menggunakan jalur ilegal dan memperingatkan bahwa kerja sama dengan musuh akan berujung pada kerusakan, penundaan pembukaan kembali Selat Hormuz, serta krisis energi global.
Di sisi lain, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau UKMTO pada Selasa (14/7/2026) menjelaskan bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil yang tidak dikenal saat berlayar 40 mil laut di timur laut Qalhat, Oman. Kapten kapal melaporkan proyektil itu mengenai ruang mesin sisi kanan, tetapi seluruh awak kapal selamat.
Reuters belum dapat segera memverifikasi apakah laporan UKMTO tersebut merujuk pada insiden yang sama dengan yang dilaporkan Kementerian Pertahanan UEA. Insiden terbaru ini muncul setelah ketegangan meningkat selama beberapa minggu, termasuk serangan malam ketiga berturut-turut oleh militer AS terhadap Iran pada Senin.
Di tengah situasi itu, Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran dan mengusulkan pengenaan biaya 20 persen untuk menjaga Selat Hormuz. Jalur ini tetap menjadi titik krusial karena menjadi penghubung penting bagi pengiriman minyak mentah dari Teluk ke pembeli internasional.
Source: www.kompas.com






