Serangan Israel Terus Menyebar Di Lebanon Selatan, 19 Orang Tewas Meski Gencatan Senjata Berlaku

Author: Redaksi Android62

Bentrokan di perbatasan Lebanon belum mereda meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sudah berjalan selama tiga pekan. Di saat pembicaraan diplomatik terus bergerak, serangan di lapangan justru menambah korban sipil dan membuat situasi di selatan Lebanon tetap tegang.

Korban terbaru tersebar di sejumlah kota, bukan hanya di satu titik serangan. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan militer masih menjangkau banyak wilayah, sementara warga sipil kembali menanggung dampak terbesar.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan di al-Saksakieh, distrik Sidon selatan, menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak. Serangan itu juga melukai 15 orang, di antaranya tiga anak.

Di lokasi lain, serangan Israel menewaskan seorang pria Suriah dan putrinya di Nabatieh. Tiga orang dilaporkan tewas di Nahrain, tiga di Saadiyat, tiga lagi di Haboush, dan satu orang di Mefdoun.

Rentetan korban tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan masih menyebar luas di selatan Lebanon. Dalam situasi seperti ini, masa gencatan senjata yang seharusnya memberi ruang jeda justru diwarnai serangan baru.

Tekanan terhadap gencatan senjata meningkat

Serangan terbaru terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata bulan lalu yang dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran dengan kelompok bersenjata Hezbollah. Namun sejak 16 April, pasukan Israel disebut telah menewaskan hampir 500 orang, sehingga total korban jiwa sejak invasi dan pemboman Israel ke Lebanon dimulai pada 2 Maret melampaui 2.750 orang, menurut Kementerian Kesehatan.

Militer Israel juga mengeluarkan perintah baru pengungsian paksa untuk beberapa kota. Pada saat yang sama, Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan dan mempertahankan zona penyangga di area itu.

Keberadaan zona tersebut membuat ratusan ribu warga yang mengungsi belum bisa kembali ke rumah mereka. Pembongkaran rumah-rumah di dalam zona itu ikut memperkuat tekanan terhadap penduduk sipil yang terjebak di tengah konflik.

Diplomasi tetap berjalan di tengah serangan

Situasi di lapangan memburuk sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan akan memediasi putaran kedua perundingan antara Israel dan Lebanon pada 14 dan 15 Mei. Pemerintah Lebanon sebelumnya meminta agar serangan Israel dihentikan lebih dulu sebelum negosiasi dilanjutkan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pembicaraan di Washington, DC akan mendorong “perjanjian perdamaian dan keamanan menyeluruh yang secara substansial menjawab kepentingan inti kedua negara”. Presiden Lebanon Joseph Aoun juga menerima mantan Duta Besar Simon Karam, yang memimpin delegasi Lebanon, dan memberi “arahan sebelum perjalanannya ke Washington”, menurut pernyataan kepresidenan Lebanon.

Di sisi lain, Hezbollah yang tidak ikut dalam perundingan yang dimediasi AS tetap melancarkan serangan balasan. Pada Sabtu, kelompok itu mengatakan telah menembakkan artileri terpisah ke posisi Israel di kota Biyyada dan Rachaf di Lebanon selatan, serta melancarkan serangan drone ke kota perbatasan Misgav Am, menurut media negara.

Hezbollah juga mengklaim menargetkan sebuah buldoser D9 milik tentara Israel di kota al-Abbad. Sementara itu, tentara Israel menyebut beberapa drone peledak memasuki wilayah Israel dan sebagian jatuh di dalam negeri.

Militer Israel menambahkan bahwa sistem pertahanan udaranya mencegat beberapa proyektil yang ditembakkan ke arah pasukan yang beroperasi di Lebanon selatan. Pada Jumat, drone yang diluncurkan Hezbollah meledak di Israel utara dekat perbatasan Lebanon dan melukai sedikitnya tiga tentara Israel.

Berita Terbaru