Serangan pada Tanker Saudi Membuka Tekanan Ganda di Jalur Minyak Dunia

Serangan yang diklaim Houthi terhadap dua tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah menambah tekanan pada jalur energi dunia. Risiko kini muncul bersamaan di Laut Merah dan Selat Hormuz, dua koridor penting bagi pergerakan minyak dari kawasan Teluk.

Gangguan pada dua titik tersebut dapat memaksa kapal mengambil pelayaran yang lebih panjang. Konsekuensinya adalah kenaikan waktu tempuh serta biaya distribusi minyak menuju pasar Asia.

Encelia Dilaporkan Mengirim Sinyal Darurat

Houthi pada Kamis, 23 Juli 2026, menyatakan telah menyerang tanker Encelia dan Layla dengan rudal serta drone. Kelompok yang menguasai sebagian wilayah Yaman di sekitar Bab El-Mandeb itu sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Kompas.com yang mengutip Reuters melaporkan Encelia sempat mengirim sinyal darurat setelah diduga terkena rudal pada Rabu malam. Insiden itu disebut terjadi di perairan Arab Saudi, dekat Pelabuhan Jizan.

KapalStatus LaporanLokasi yang Disebut
EnceliaMengirim sinyal darurat setelah dilaporkan terkena rudalDekat Pelabuhan Jizan, sekitar 70 mil laut barat daya Al Shuqaiq
LaylaMenjadi sasaran dalam klaim Houthi, belum terkonfirmasiLaut Merah

Vanguard, perusahaan manajemen risiko maritim Inggris, menyatakan kapal berbendera Saudi itu terkena proyektil dengan jenis yang belum diketahui. Sementara itu, laporan mengenai serangan terhadap Layla belum dapat diverifikasi secara independen.

Bab El-Mandeb Menjadi Jalur yang Semakin Rawan

Arab Saudi selama ini mengalihkan jutaan barel minyak setiap hari ke Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Langkah itu dimaksudkan untuk menghindari risiko gangguan di Selat Hormuz.

Namun, kapal dari Yanbu tetap perlu melewati Bab El-Mandeb untuk menuju Teluk Aden dan jalur pelayaran ke Asia. Serangan di Laut Merah membuat rute alternatif tersebut ikut menghadapi ancaman keamanan.

Tanda perubahan jalur sudah terlihat pada Rabu ketika lima tanker mengalihkan pelayaran demi menghindari Bab El-Mandeb. Sehari sebelumnya, tiga tanker pembawa minyak Saudi menuju China dan India juga berbalik arah.

Kapal yang tidak melintasi selat tersebut dapat memilih rute menuju Terusan Suez dari arah utara. Pilihan ini membuat perjalanan lebih panjang dan dapat meningkatkan biaya pengangkutan.

Gangguan di Selat Hormuz Mempersempit Pilihan

Situasi di Laut Merah terjadi ketika ekspor minyak melalui Selat Hormuz juga dilaporkan terganggu akibat konflik Iran. Jalur ini berperan besar dalam pengiriman energi dari kawasan Teluk kepada negara-negara importir.

Pada Rabu, 22 Juli 2026, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran apabila Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Komando militer gabungan Iran kemudian menyatakan akan menyerang infrastruktur minyak, gas, listrik, dan ekonomi kawasan jika ancaman itu dilaksanakan.

Garda Revolusi Iran melaporkan ledakan pada jalur yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz beberapa jam setelah pernyataan tersebut. Mereka menyebut satu dari tiga tanker terbakar, sedangkan dua kapal lain berbalik arah.

Garda Revolusi juga menyatakan Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Iran dan tanker tidak boleh masuk atau keluar tanpa koordinasi dengan Teheran. Pernyataan ini memperbesar kekhawatiran atas kelancaran ekspor minyak kawasan Teluk.

Operasi Militer AS Berlanjut

Militer AS menyatakan telah melancarkan gelombang serangan baru ke Iran atas perintah Trump. Serangan itu menandai malam ke-12 operasi berturut-turut sejak gencatan senjata pada Juni runtuh.

CENTCOM menyatakan operasi akan diteruskan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam lalu lintas pelayaran. Media Iran melaporkan serangan AS dua kali menyasar target militer di Bushehr pada Kamis.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan dua orang tewas dan 11 orang terluka akibat serangan rudal AS di perlintasan Shalamcheh di perbatasan Irak. Pejabat Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 53 warga sipil tewas dan 592 lainnya terluka sejak akhir bulan lalu.

Di pihak lain, perang dilaporkan telah menewaskan 18 personel militer AS dan melukai lebih dari 450 tentara. Eskalasi ini membuat keselamatan pelayaran dan stabilitas pasokan minyak tetap menjadi perhatian utama.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait