Iran menyatakan siap memperluas sasaran balasan hingga infrastruktur minyak, gas, ekonomi, dan pembangkit listrik di Timur Tengah apabila Amerika Serikat menyerang fasilitas publiknya. Ancaman tersebut meningkatkan risiko konflik tidak lagi terbatas pada pangkalan militer atau jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menegaskan respons Teheran tidak akan berhenti pada kemungkinan pemblokadean ekspor minyak kawasan. Pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran itu menempatkan fasilitas penopang energi dan ekonomi regional sebagai bagian dari potensi sasaran.
Risiko Energi dan Kelistrikan
Fasilitas minyak, gas, pembangkit listrik, serta infrastruktur ekonomi menjadi titik yang disebut Iran dalam eskalasi terbaru. Bila ancaman tersebut diwujudkan, gangguan dapat menjalar ke sektor yang menopang kebutuhan energi banyak negara di Timur Tengah.
Panglima Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Seyed Majid Mousavi, juga menyinggung dampak bagi negara yang bersekutu dengan Washington. Menurut dia, serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik Iran dapat berujung pada terputusnya aliran listrik di negara-negara sekutu AS.
“Jika jembatan-jembatan dan pembangkit-pembangkit listrik kami diserang, terputusnya aliran listrik di negara-negara sekutu (AS) tak akan terhindarkan,” kata Mousavi pada Kamis, 23 Juli 2026. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ancaman balasan Iran mencakup fasilitas sipil yang dinilai penting bagi aktivitas kawasan.
Pemicu dari Ancaman Trump
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran untuk setiap kapal yang diserang Iran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut menjadi pusat perselisihan karena terkait pelayaran kapal dagang di kawasan.
Komando Pusat AS menyatakan serangan ke Iran dilakukan sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Iran, di sisi lain, menyatakan ancaman terhadap infrastrukturnya dapat memicu respons yang lebih luas terhadap kepentingan energi dan ekonomi regional.
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 28 Februari 2026 | Konflik antara Teheran dan Washington mulai pecah. |
| 18 Juni 2026 | Iran dan AS menandatangani memorandum perdamaian. |
| 8 Juli 2026 | Pasukan AS kembali melancarkan serangan ke Iran. |
Kesepakatan Damai yang Gagal Menahan Eskalasi
Iran dan AS sebelumnya menandatangani memorandum perdamaian pada 18 Juni 2026 untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Situasi kembali berubah setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Iran mulai 8 Juli.
Menurut laporan VIVA.co.id, Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Perkembangan itu terjadi ketika status kesepakatan penghentian konflik kembali dipertanyakan.
Trump selanjutnya menyatakan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku. Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menilai ancaman berulang dari AS dan militernya hanya akan memperluas perang, baik di kawasan maupun di luar kawasan.
Dengan sasaran yang kini disebut mencakup minyak, gas, listrik, dan ekonomi, dampak ketegangan berpotensi melampaui ranah militer. Perselisihan antara Teheran dan Washington pun semakin terkait dengan keamanan jalur energi serta infrastruktur vital di Timur Tengah.
Source: www.viva.co.id






