Serangan Terbesar Guncang Mali, Goita Muncul Lagi Bersama Duta Besar Rusia

Pemerintah militer Mali kembali berusaha menunjukkan bahwa mereka masih memegang kendali setelah serangan kelompok bersenjata mengguncang jantung keamanan negara itu. Di tengah tekanan tersebut, kantor Assimi Goita merilis foto dirinya saat bertemu Duta Besar Rusia Igor Gromyko, sebuah kemunculan publik yang langsung menarik perhatian.

Langkah itu muncul saat situasi di Bamako masih dibayangi serangan yang menyasar pangkalan militer utama dan kawasan dekat bandara. Di saat yang sama, Moskow mengklaim pasukannya ikut membantu menggagalkan upaya kudeta di tengah rangkaian serangan tersebut.

Pesan politik dari penampilan Goita

Publikasi foto pertemuan Goita dengan Gromyko menjadi penampilan publik pertamanya sejak serangan besar itu terjadi. Tidak ada pernyataan resmi yang menyertai foto tersebut, tetapi kemunculan itu terbaca sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin menampilkan kestabilan di tengah situasi yang rapuh.

Analis Al Jazeera Nicolas Haque menilai penampilan itu juga menunjukkan betapa besar ketergantungan rezim Mali pada “Russian mercenaries”. Ia menyebut Goita sedang berupaya meyakinkan publik bahwa dirinya masih memegang kendali atas keadaan, termasuk kemampuan menjaga keamanan warga Bamako dengan dukungan Rusia.

Klaim Rusia soal kudeta yang gagal

Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa pasukan paramiliter yang mereka sebut Africa Corps membantu menggagalkan upaya kudeta saat serangan berlangsung. Dalam pernyataannya, Moskow mengatakan para pejuang berhasil dikalahkan sehingga tidak bisa merebut objek penting, termasuk istana kepresidenan.

Rusia juga menyebut bahwa dalam “pertempuran sengit” unit Africa Corps menimbulkan kerugian besar pada lawan dan mencegah “coup d’etat”. Setelah itu, Moskow menyampaikan secara terpisah bahwa mereka tetap mendesak perdamaian dan stabilitas di Mali.

Tekanan keamanan yang belum mereda

Meski ada klaim dari Moskow, laporan di lapangan menunjukkan situasi yang jauh lebih rumit. Kelompok afiliasi al-Qaeda di Afrika Barat dan kelompok separatis Tuareg menyerang pangkalan utama tentara Mali, area dekat bandara Bamako, dan juga mendorong pasukan Rusia keluar dari Kidal di utara.

Kementerian Pertahanan Rusia bahkan mengakui bahwa tentara bayaran dari Africa Corps harus mundur dari Kidal. Di sisi lain, Rusia memperingatkan bahwa separatis Tuareg yang menguasai kota itu sedang berkonsolidasi untuk kemungkinan serangan lanjutan.

Serangan terbesar dalam hampir 15 tahun

Rangkaian serangan terbaru ini disebut sebagai yang terbesar dalam hampir 15 tahun. Serangan itu juga memperlihatkan kemampuan kelompok bersenjata untuk bekerja sama, terutama antara kelompok Tuareg dari Azawad Liberation Front atau FLA dan kelompok terkait al-Qaeda, Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM.

Laporan mengenai rekaman di media sosial turut menunjukkan tentara Rusia dan pasukan Mali menyerah kepada kelompok bersenjata yang berupaya menjatuhkan pemerintahan militer. Situasi tersebut menambah tekanan terhadap Goita, yang kini harus terus menunjukkan bahwa pemerintahannya masih sanggup bertahan meski pusat kekuasaan pun sudah tersentuh serangan.

Mali tetap berada dalam perebutan kendali

Perkembangan ini menunjukkan bahwa medan konflik di Mali terus berubah dan belum menemukan titik reda. Pemerintah militer, pasukan Rusia, separatis Tuareg, serta kelompok terkait al-Qaeda sama-sama terlibat dalam perebutan pengaruh di berbagai wilayah.

Di tengah kondisi itu, foto pertemuan Goita dengan diplomat Rusia menjadi upaya untuk mengirim pesan ketahanan. Namun, serangan yang menghantam basis militer utama dan wilayah dekat bandara Bamako memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kekuasaan di Mali masih jauh dari selesai.

Berita Terkait