Sesak Napas Saat Aktivitas Ringan Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Author: Redaksi Android62

Kebocoran katup jantung sering baru terdeteksi ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Sesak napas saat berjalan atau naik tangga, tubuh cepat lelah, dan kaki bengkak menjadi tanda yang perlu segera diperiksa dokter.

Pada kondisi yang lebih berat, sesak dapat muncul saat berbaring. Pasien bahkan bisa terbangun dari tidur karena napas terasa berat dan akhirnya harus tidur dengan posisi setengah duduk.

Keluhan yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dan konsultan aritmia di Primaya Hospital Kelapa Gading, menegaskan bahwa gejala awal kebocoran katup jantung kerap menyerupai kelelahan biasa. Karena itu, banyak pasien datang saat kondisi sudah lebih berat.

Menurut Prof. Yoga, keterlambatan pemeriksaan membuat pilihan terapi bisa semakin terbatas. Hal ini terjadi karena fungsi jantung sudah menurun ketika pasien baru mencari pertolongan medis.

Pemeriksaan Dokter Menentukan Tingkat Keparahan

Keluhan pasien memang menjadi petunjuk awal, tetapi penentuan diagnosis tetap harus dilakukan lewat pemeriksaan medis. Saat didengar dengan stetoskop, dokter dapat menemukan suara khas seperti aliran cairan yang melewati pipa bocor.

Untuk memastikan lokasi dan tingkat keparahan kebocoran, pemeriksaan yang paling akurat adalah ekokardiografi atau USG jantung. Pemeriksaan ini membantu dokter melihat kondisi katup serta menilai gangguan aliran darah di jantung.

Pemeriksaan Fungsi Utama Keterangan
Stetoskop Mendeteksi suara khas Memberi petunjuk awal adanya kebocoran katup
Ekokardiografi atau USG jantung Memastikan kondisi katup Menilai lokasi dan tingkat keparahan kebocoran

Penyebabnya Beragam, Tidak Selalu Karena Penuaan

Kebocoran katup jantung dapat terjadi karena proses penuaan atau gangguan fungsi jantung. Pada sebagian pasien, kondisi ini juga berkaitan dengan penyakit jantung rematik.

Penyakit jantung rematik biasanya berawal dari infeksi tenggorokan saat masa kanak-kanak yang tidak ditangani dengan baik. Kerusakan katup baru dapat terlihat 10 sampai 15 tahun kemudian.

Karena itu, infeksi tenggorokan pada anak tidak boleh disepelekan. Penanganan yang tepat sejak awal dapat membantu mencegah gangguan jantung di kemudian hari.

Faktor Risiko yang Perlu Dikendalikan

Selain penyebab langsung, ada faktor risiko yang dapat memperburuk gangguan jantung dan katup. Tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok termasuk faktor yang perlu dikendalikan.

Langkah pencegahan yang disarankan meliputi menjaga tekanan darah tetap normal, mengontrol gula darah, menjaga berat badan, dan berhenti merokok. Upaya ini penting untuk menekan risiko gangguan jantung yang bisa berdampak pada katup.

Tindakan Minimal Invasif untuk Pasien Risiko Tinggi

Bagi pasien dengan risiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka, Primaya Hospital Kelapa Gading menghadirkan prosedur MitraClip. Tindakan ini dilakukan melalui kateter dari pembuluh darah di lipat paha tanpa perlu membuka dada.

MitraClip bekerja dengan menjepit bagian katup mitral yang bocor agar aliran darah kembali lebih optimal. Prof. Yoga menyebut prosedur ini memberi harapan baru bagi pasien yang sebelumnya tidak memungkinkan menjalani operasi konvensional.

Salah satu pasien yang ditangani adalah pria berusia 72 tahun dengan kebocoran katup mitral berat. Pasien tersebut telah berulang kali mengalami gagal jantung dan hanya memiliki fungsi pompa jantung sekitar 25 persen.

Harapan Setelah Tindakan

Setelah menjalani prosedur MitraClip, sebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas dengan lebih baik. Perbaikan fungsi katup membantu meningkatkan kapasitas fisik sehingga keluhan seperti sesak saat menaiki tangga dapat berkurang.

Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, mengatakan kehadiran MitraClip memperkuat layanan jantung yang komprehensif di rumah sakit tersebut. Layanan ini mencakup diagnosis hingga tindakan intervensi yang kompleks dengan teknologi tinggi.

Meski demikian, pasien tetap perlu menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter setelah tindakan. Prof. Yoga menjelaskan bahwa obat pengencer darah tetap dibutuhkan untuk mencegah terbentuknya bekuan darah pada alat yang dipasang.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru