Shefira Salvabila Safitri menuntaskan studi S1 Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang (UM) hanya dalam 7 semester. Ia lulus dengan IPK 3,82 dan membawa pulang tiga medali internasional selama masa kuliah.
Pencapaian itu membuat namanya menonjol pada wisuda periode 138 UM yang digelar pada Minggu (5/7/2026). Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu menjadi salah satu lulusan yang mencuri perhatian karena mampu menjaga prestasi akademik sekaligus nonakademik.
Dalam keterangan yang dikutip www.kompas.com dari situs UM pada Senin (13/7/2026), Shefira mengaku bersyukur atas capaian tersebut. “Tentunya sangat senang atas pencapaian yang telah diberikan, juga sekaligus menjadi salah satu bentuk rasa tanggung jawab kepada orang tua,” ujarnya.
Deretan prestasi internasional selama kuliah
Selama menjadi mahasiswa, Shefira aktif mengikuti kompetisi dan berhasil mengumpulkan tiga medali internasional. Prestasi pertamanya datang dari Arau International Creativity Perlis, Malaysia, pada 2023 dengan medali emas.
| Tahun | Ajang | Hasil |
|---|---|---|
| 2023 | Arau International Creativity Perlis, Malaysia | Medali emas |
| 2024 | International Business Plan Competition | Medali perunggu kategori Food and Beverage |
| 2025 | International Mathematics Conference and its Application | Medali emas Outstanding Presenter Award |
Pada 2024, ia kembali meraih medali perunggu di ajang International Business Plan Competition melalui kategori Food and Beverage. Setahun setelahnya, ia menambah koleksi medali emas lewat Outstanding Presenter Award pada International Mathematics Conference and its Application.
Pengalaman berlomba di Malaysia menjadi salah satu momen yang paling berkesan baginya. Ajang itu tidak hanya menguji kemampuan, tetapi juga memberinya kesempatan bertukar wawasan dengan mahasiswa dari negara lain dan latar budaya yang berbeda.
Menjaga kuliah dan lomba tetap seimbang
Shefira tidak menempuh perjalanan akademik yang ringan untuk bisa lulus lebih cepat satu semester dari waktu normal. Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara kegiatan perkuliahan dan persiapan kompetisi.
Untuk mengatasinya, ia menerapkan perencanaan waktu yang terstruktur agar seluruh tanggung jawab tetap terselesaikan dengan optimal. Cara itu membantunya mempertahankan kualitas belajar tanpa mengorbankan kesiapan saat lomba.
Dukungan kampus juga menjadi bagian penting dari pencapaiannya. UM memberi fasilitas pendanaan, pembinaan, dan pendampingan selama perlombaan berlangsung.
Shefira turut menyampaikan apresiasi kepada dosen Dr. Imam Rofiki yang mendampingi dan memotivasinya sejak awal perkuliahan. Menurutnya, ekosistem kampus yang mendukung pengembangan prestasi mahasiswa sangat berperan dalam mendorong keberanian bersaing di level internasional.
Pelajaran dari gagal dan dorongan untuk mahasiswa lain
Shefira menilai kompetisi internasional membentuk lebih dari sekadar prestasi. Pengalaman itu, katanya, ikut mengasah kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, dan jejaring internasional yang berguna untuk masa depan.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba meski pernah gagal. “Kita harus berani mencoba, karena saya dulu juga pernah gagal. Dari kegagalan itu kita bisa belajar banyak hal dan mencapai kesuksesan di masa yang akan datang,” tegasnya.
Ke depan, Shefira berharap semakin banyak mahasiswa UM keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan program pengembangan diri yang tersedia di kampus. Ia ingin lebih banyak mahasiswa berani membawa nama UM lewat kompetisi nasional maupun internasional.







