Jannik Sinner menutup Wimbledon dengan gelar tunggal putra keduanya secara beruntun setelah menundukkan Alexander Zverev dalam empat set. Kemenangan 6-7 (7), 7-6 (2), 6-3, 6-4 itu juga mengantar petenis nomor satu dunia tersebut meraih trofi Grand Slam kelima sepanjang kariernya.
Hasil itu terasa penting bukan hanya karena mempertahankan gelar, tetapi juga karena Sinner datang ke London dengan beban besar usai kegagalan di Paris. Di turnamen lapangan tanah liat itu, ia sempat menyia-nyiakan peluang besar pada final tahun lalu dan kembali terpukul pada ajang berikutnya.
Jeda Singkat yang Justru Menguatkan
Setelah kekalahan di Paris, Sinner menjalani pemeriksaan medis di Milan dan tidak tampil dalam pertandingan resmi sampai tiba di Wimbledon. Jeda itu tidak mengganggu ritme kompetitifnya, justru menjadi ruang untuk memulihkan kondisi sebelum menghadapi tantangan di All England Club.
Ia langsung mendapat ujian panjang pada babak pertama melawan Miomir Kecmanovic. Sinner sempat dua kali tertinggal set sebelum akhirnya menang dalam lima set, lalu melaju tanpa kehilangan satu set pun hingga final.
| Turnamen | Hasil Sinner | Catatan Penting |
|---|---|---|
| French Open 2026 | Kalah dari Juan Manuel Cerundolo | Rekor 30 kemenangan beruntun berakhir |
| Wimbledon 2026 | Juara atas Alexander Zverev | Mempertahankan gelar dan meraih Grand Slam kelima |
Di French Open 2026, rekor 30 kemenangan beruntun Sinner terhenti saat kalah dari Juan Manuel Cerundolo, yang ketika itu berperingkat 56 dunia. Ia sebenarnya sudah unggul dan hanya satu gim lagi dari kemenangan tiga set langsung, tetapi kondisi fisiknya menurun hingga gagal menuntaskan laga.
Final yang Berjalan Ketat
Partai puncak Wimbledon juga tidak berjalan mulus sejak awal. Sinner kehilangan set pertama sebelum membalikkan keadaan, sementara Zverev sempat mendapatkan momentum setelah menang di set pembuka.
Poin penting terjadi pada set ketiga ketika Sinner memainkan drop shot dan Zverev terpeleset saat mengubah arah di belakang garis lapangan. Lutut kanan Zverev tampak mengalami hiperekstensi, dan Sinner sempat berjalan melewati net untuk membantu lawannya berdiri.
Kondisi Zverev memang membaik cukup cepat, tetapi pergerakannya tetap terlihat terganggu. Sinner lalu memanfaatkan situasi itu untuk merebut break pertama, unggul 5-3, lalu menutup set ketiga dan mempertahankan servis pada set keempat.
Statistik pertandingan menunjukkan efisiensi Sinner yang lebih baik. Ia mencatat 58 winner dan hanya 25 unforced error, sedangkan Zverev membukukan 49 winner dan 45 unforced error.
Dalam catatan servis as, Zverev unggul 17-15, tetapi Sinner lebih konsisten pada momen krusial. Ia juga hanya menghadapi satu break point pada semifinal melawan Novak Djokovic dan satu lagi di final melawan Zverev, dan keduanya berhasil digagalkan.
Pengakuan dari Kubu Lawan
Dominasi Sinner atas Zverev kini mencapai 10 kemenangan beruntun. Sebelum final ini, Zverev sempat kalah 14 set berturut-turut dari Sinner, meski akhirnya berhasil memutus tren itu dengan merebut set pertama di partai puncak.
Usai laga, Zverev mengakui kualitas lawannya. “Dia kembali menunjukkan alasan mengapa dirinya menjadi pemain terbaik di dunia,” kata Zverev, sembari tetap menilai penampilannya di Wimbledon memberi keyakinan baru untuk masa depan di All England Club.
Darren Cahill, salah satu pelatih Sinner, menilai mental anak asuhnya menjadi pembeda utama. “Itu menunjukkan kematangan pemain yang bekerja bersama kami. Dia mampu menerima pukulan berat seperti itu,” ujar Cahill.
Ia menambahkan bahwa kemampuan Sinner untuk segera bangkit setelah kegagalan adalah hal yang paling membanggakan dari kerja tim mereka. “Kegagalan tidak membuatnya terpuruk terlalu lama,” kata Cahill.
Final itu turut disaksikan Pangeran William, Kate, dan dua anak mereka, bersama sejumlah bintang di royal box seperti Dustin Hoffman, Nicole Kidman, dan Ben Stiller. Dalam upacara penyerahan trofi, Sinner mengatakan, “Tidak ada tempat yang lebih baik untuk bermain tenis.”
Gelar Wimbledon 2026 menegaskan posisi Sinner di puncak tenis putra. Setelah trauma Paris, ia membalas dengan cara paling tegas yang bisa dilakukan seorang juara, yakni kembali berdiri di panggung terbesar rumput dunia.
Source: www.beritasatu.com






