Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SDN Gendengsari di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, meraih penghargaan dari NASA setelah menemukan celah keamanan digital yang dinilai valid. Prestasi itu diraih melalui proses belajar mandiri dengan perangkat sederhana dan ketekunan memeriksa sistem digital.
Temuan Ibrahim berupa celah berjenis broken link hijacking, yang disebut dapat berbahaya apabila tidak segera diperbaiki. Penemuan tersebut menjadi langkah penting bagi Ibrahim untuk menekuni bidang keamanan siber.
Perjalanan menuju temuan valid itu tidak berlangsung mulus. Ibrahim sempat menerima penolakan dua kali atas temuan yang diajukan sebelum akhirnya kembali mencoba.
Penolakan tersebut sempat membuatnya kehilangan semangat dan enggan meneruskan percobaan. Namun, dukungan keluarga mendorongnya untuk tidak berhenti pada kegagalan awal.
Ibunda Ibrahim, Hannisa Oktaviani, mengatakan putranya pernah berada dalam masa sulit setelah temuannya ditolak. “Ibrahim sempat patah semangat, dia tidak mau mencobanya lagi. Namun, kami sebagai orang tua terus memberikan semangat. Bahwa, kegagalan bukan berarti harus berhenti di situ saja,” ucapnya.
Dorongan itu membuat Ibrahim kembali memeriksa kemungkinan adanya celah keamanan dengan alat yang tersedia. Ia melanjutkan proses belajar sekaligus menguji pemahamannya terhadap persoalan teknis yang ditemui.
Belajar Mandiri dari Perangkat Terbatas
Ibrahim belajar coding tanpa mengikuti kursus atau les. Ia memanfaatkan video YouTube, artikel tentang coding, serta diskusi dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI untuk memahami materi yang dipelajari.
Perangkat yang digunakannya adalah PC portabel senilai Rp2 juta. Dari perangkat tersebut, ia mendalami pencarian bug atau celah dalam keamanan digital.
Aktivitas belajar itu membutuhkan waktu dan ketekunan yang besar. Ibrahim disebut dapat menghabiskan lebih dari enam jam dalam sehari untuk mempelajari coding dan menghadapi kebuntuan teknis.
Menurut unggahan akun Instagram @ibracoding yang dikutip Beritasatu, ketertarikan Ibrahim pada coding berawal dari tantangan sederhana dari ayahnya. Tantangan itu mengubah kebiasaannya bermain gim melalui ponsel menjadi keinginan untuk membuat gim sendiri.
Alih-alih melarang anaknya bermain gim, ayah Ibrahim mengarahkannya untuk menghasilkan sesuatu dari kegemaran tersebut. Dari proses membuat gim, Ibrahim kemudian mulai mempelajari coding secara lebih serius.
Dari Gim ke Keamanan Digital
Ketertarikannya tidak berhenti pada pengembangan gim. Ibrahim kemudian memperluas pembelajaran ke pencarian celah keamanan digital hingga memahami pentingnya mengidentifikasi bug yang dapat menimbulkan risiko.
Temuan broken link hijacking yang valid membuka jalan bagi Ibrahim Al Abrar untuk memperoleh penghargaan dari NASA. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa rasa ingin tahu, dukungan keluarga, dan keteguhan setelah penolakan dapat menjadi bagian penting dalam proses belajar.
