Situbondo Turun Ke Peringkat 64 Di Jawa, Kenaikan HLS Mulai Kehabisan Tenaga

Author: Redaksi Android62

Peta persaingan Harapan Lama Sekolah di Pulau Jawa makin rapat, dan Situbondo kini berada di posisi yang tidak terlalu nyaman. Pada 2025, kabupaten ini tercatat di peringkat 64 di Pulau Jawa, hanya selangkah di belakang Kabupaten Bekasi yang berada di urutan 63.

Nilai HLS Situbondo sebenarnya masih bergerak naik. Pada akhir 2025, angkanya mencapai 13,21 tahun, sehingga masih sedikit di atas rata-rata periode seluruh sebesar 12,83 tahun.

Masalahnya, kenaikan itu tidak cukup cepat untuk menjaga posisi. Dalam lima tahun terakhir, peringkat Situbondo di Pulau Jawa turun bertahap dari 54 pada 2020 menjadi 64 pada 2025.

Kenaikan ada, tetapi lajunya melambat

Selama 16 tahun pengamatan, HLS Situbondo tidak pernah turun. Dari posisi awal 11,5 tahun, indikator ini naik 14,87 persen, namun laju pertumbuhan rata-ratanya hanya 0,93 persen per tahun.

Lonjakan paling besar terjadi pada 2012 saat HLS Situbondo bertambah 0,66 tahun atau 5,72 persen dibanding tahun sebelumnya. Setelah fase itu, tambahan tahun sekolah yang tercatat cenderung mengecil, bahkan pada hampir separuh periode pengamatan kenaikannya hanya 0,01 tahun per tahun.

Perlambatan itu juga terlihat pada data terbaru. Rata-rata pertumbuhan Situbondo turun dari 0,091 persen pada lima tahun terakhir menjadi 0,076 persen pada tiga tahun terakhir.

Posisi di Jawa dan nasional ikut menurun

Penurunan peringkat tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Di tingkat nasional, Situbondo bergeser dari peringkat 196 pada 2020 menjadi 252 pada 2025.

Meski begitu, nilai HLS yang dimiliki Situbondo tetap berada di kisaran yang relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa angka sekolah harapan memang naik, tetapi wilayah lain melaju lebih cepat sehingga posisi Situbondo ikut terdorong ke bawah.

Selisih tipis, dampaknya besar

Persaingan antarwilayah di sekitar angka 13,21 tahun terlihat sangat ketat. Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Bekasi sama-sama mencatat 13,22 tahun pada 2025, sedangkan Kabupaten Sragen, Supiori, dan Sumedang berada tepat di angka 13,21 tahun.

Namun, kecepatan pertumbuhan masing-masing daerah tidak sama. Kutai Timur tumbuh 1,54 persen dalam setahun terakhir dengan tambahan 0,2 tahun, Bekasi naik 0,3 persen, dan Sragen melaju 2,17 persen dengan tambahan 0,28 tahun.

Kondisi itu membuat selisih kecil pada nilai HLS bisa langsung mengubah urutan peringkat. Situbondo menjadi contoh daerah yang masih menjaga tren naik, tetapi belum cukup agresif untuk mempertahankan posisi di tengah kompetisi yang makin padat.

Bandingannya tidak selalu sama antarwilayah

Situasi ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki nilai serupa. Supiori juga mencatat HLS 13,21 tahun, tetapi berada di peringkat 11 di Pulau Papua.

Perbandingan itu menegaskan bahwa angka yang sama tidak otomatis menghasilkan posisi yang sama. Di Pulau Jawa, rapatnya persaingan membuat Situbondo harus bersaing lebih keras agar tidak terus kehilangan tempat dalam daftar peringkat.

Bagi Situbondo, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mempertahankan kenaikan HLS. Daerah ini perlu mempercepat lajunya supaya tidak semakin tertinggal dari kabupaten lain yang bergerak lebih cepat pada indikator pendidikan yang sama.

Source: databoks.katadata.co.id
Berita Terbaru