Indonesia telah masuk 10 besar dunia dalam jumlah pengguna AI generatif, tetapi ketersediaan talenta yang mampu mengembangkan teknologi tersebut masih menjadi hambatan. Kondisi ini berisiko membatasi manfaat ekonomi dari teknologi yang berpotensi menaikkan Produk Domestik Bruto hingga 12% atau setara US$366 miliar.
Tekanan untuk memperkuat talenta digital semakin besar ketika penggunaan internet dan kegiatan ekonomi berbasis digital terus meluas. Indonesia kini memiliki 229,4 juta pengguna internet, sementara pemanfaatan media sosial untuk penjualan oleh pelaku usaha naik 20,7 poin.
SDM menjadi satu-satunya pilar yang turun
Laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index atau EV-DCI 2026 menunjukkan median skor daya saing digital nasional meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026. Sebanyak 37 dari 38 provinsi juga membukukan kenaikan skor secara keseluruhan.
Di tengah perbaikan tersebut, pilar SDM justru turun 2,5 poin dan menjadi satu-satunya komponen yang melemah dibandingkan pilar lain. Data ini menunjukkan pembangunan sarana digital belum sepenuhnya diikuti kesiapan manusia untuk memanfaatkannya secara produktif.
| Indikator | Catatan EV-DCI 2026 |
|---|---|
| Median skor nasional | Naik dari 38,8 menjadi 42,2 |
| Provinsi dengan skor meningkat | 37 dari 38 provinsi |
| Pilar SDM | Turun 2,5 poin |
| Anggaran riset dan pengembangan | Sekitar 0,3% dari PDB |
Pelemahan pada talenta digital terlihat dari sejumlah ukuran pendidikan dan kesiapan masyarakat. Indikator yang terdampak mencakup jumlah mahasiswa, dosen, program studi bidang digital, serta indeks literasi digital.
Ketimpangan wilayah turut memperberat persoalan tersebut. Skor SDM digital di Pulau Jawa sekitar 2,3 kali lebih tinggi daripada Sumatra dan Kalimantan, sedangkan selisihnya dengan Maluku dan Papua hampir mencapai tiga kali lipat.
Infrastruktur tidak cukup tanpa kemampuan pemanfaatan
Kenaikan indeks nasional menggambarkan perbaikan pada infrastruktur dan aktivitas ekonomi digital. Namun, hasil itu juga memperlihatkan bahwa akses teknologi tidak otomatis menghasilkan nilai tambah apabila kemampuan pengguna dan pengembangnya belum memadai.
Sektor jasa keuangan tumbuh 7,9% di tengah ekspansi ekonomi digital. Pertumbuhan tersebut membuka kebutuhan terhadap pekerja yang dapat mengoperasikan, mengadaptasi, dan mengembangkan layanan digital secara berkelanjutan.
Potensi AI generatif menjadi semakin relevan karena pemanfaatannya sudah meluas di Indonesia. Kendati demikian, keterbatasan tenaga ahli pengembang AI dan rendahnya belanja riset serta pengembangan masih menghambat optimalisasi peluang tersebut.
Kurikulum dan kebutuhan industri bergerak dengan kecepatan berbeda
CEO MySkill Angga Fauzan menilai salah satu persoalan utama terletak pada lambatnya penyesuaian kurikulum pendidikan formal terhadap perubahan kebutuhan industri. Menurut dia, bootcamp dan platform edutech dapat menjadi jembatan yang lebih lincah untuk memberikan keterampilan praktis terbaru.
Model pembelajaran yang lebih adaptif dinilai penting ketika kebutuhan kompetensi teknologi berubah cepat. Penguatan keterampilan baru dan pembaruan kemampuan pekerja dapat membantu mempersempit jarak antara pendidikan dan permintaan industri.
Partner East Ventures Melisa Irene menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan industri. Kerja sama itu dinilai krusial untuk mempercepat peningkatan serta pembaruan keterampilan agar Indonesia memiliki SDM masa depan yang mampu menghasilkan inovasi digital kompetitif secara global.
Perbaikan infrastruktur memberi fondasi bagi transformasi digital di berbagai daerah, tetapi pemerataan kemampuan manusia akan menentukan hasil akhirnya. Tanpa percepatan penguatan kompetensi, manfaat ekonomi digital dan AI berpotensi terserap tidak merata.
Source: www.medcom.id






