Di SMP Negeri 11 Samarinda, tempat sampah pintar bernama SmartBIN membuat kebiasaan membuang sampah berubah cepat. Dalam dua minggu penggunaan, tingkat kesadaran siswa membuang sampah pada tempatnya naik dari 45 persen menjadi 83 persen.
Perubahan itu tidak hanya terasa pada perilaku siswa. Kebersihan lingkungan sekolah ikut membaik dari 44 persen menjadi 83 persen, sementara minat menggunakan tempat sampah meningkat dari 46 persen menjadi 85 persen.
Jawaban atas persoalan sampah di sekolah
Kehadiran SmartBIN berangkat dari masalah yang nyata di sekolah. Program Makan Bergizi Gratis memang memberi manfaat bagi kesehatan siswa, tetapi juga memunculkan lonjakan sampah organik dan anorganik.
Sebelum inovasi ini digunakan, tempat sampah konvensional dinilai kurang higienis, sulit dipakai, dan belum mendorong siswa memilah sampah dengan benar. Survei awal menunjukkan tingkat kesadaran membuang sampah pada tempatnya baru 45 persen dan kebersihan lingkungan sekolah baru 44 persen.
Banyak siswa juga enggan menyentuh tutup tempat sampah karena dianggap kotor. Di sisi lain, pemahaman tentang pemilahan sampah organik dan anorganik belum merata di kalangan siswa.
Dirancang lewat problem nyata di lapangan
Guru dan siswa tidak memilih solusi sederhana dengan hanya menambah jumlah tempat sampah. Mereka memakai pendekatan Problem-Based Learning untuk mencari akar persoalan langsung dari kondisi sekolah.
Lewat proses itu, siswa diajak menjadi “detektif lingkungan” yang melakukan observasi, wawancara, dan pemetaan titik penumpukan sampah di kantin, koridor, dan halaman sekolah. Dari sana lahir gagasan SmartBIN yang dikembangkan bersama oleh guru dan siswa melalui Tim Konan.
SmartBIN memanfaatkan kamera, sensor, dan modul komputer mini yang didukung teknologi AI untuk mengenali jenis sampah secara otomatis. Setelah sampah terdeteksi sebagai organik atau anorganik, sistem akan mengarahkannya ke tempat yang sesuai tanpa perlu sentuhan tangan dari pengguna.
Fungsi ganda, bukan sekadar tempat sampah
Alat ini juga dilengkapi layar digital yang menampilkan jenis sampah, edukasi pengelolaan limbah, data statistik penggunaan, dan panduan suara. Kehadiran panduan suara membuat SmartBIN lebih komunikatif, sedangkan layar digital memperkuat fungsinya sebagai media belajar langsung saat siswa membuang sampah.
Seluruh proses pembuatannya melibatkan siswa sejak tahap perancangan desain hingga sosialisasi kepada warga sekolah. Mereka juga ikut mengumpulkan data untuk melatih sistem AI dan terlibat dalam pengujian prototipe sebelum alat dipakai lebih luas.
Keterlibatan itu membuat isu lingkungan, teknologi, dan tanggung jawab sosial hadir dalam pengalaman belajar sehari-hari. Siswa dilatih berpikir kritis, bekerja sama, sekaligus meningkatkan kreativitas dan literasi teknologi melalui proyek yang dekat dengan kebutuhan sekolah.
Dampak cepat yang langsung terlihat
Dalam waktu singkat, perubahan perilaku itu mulai terlihat di lapangan. Wali kelas menyebut muncul fenomena yang jarang terjadi, yakni peserta didik berebut menggunakan tempat sampah.
Data pengukuran juga menunjukkan kemajuan yang konsisten. Kemudahan penggunaan tempat sampah naik dari 48 persen menjadi 84 persen, kepuasan terhadap fasilitas pengelolaan sampah meningkat dari 44 persen menjadi 84 persen, dan rata-rata capaian keseluruhan bertambah dari 45,4 persen menjadi 83,8 persen.
| Indikator | Sebelum | Sesudah | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kesadaran membuang sampah pada tempatnya | 45% | 83% | +38 poin |
| Kemudahan penggunaan tempat sampah | 48% | 84% | +36 poin |
| Kebersihan lingkungan sekolah | 44% | 83% | +39 poin |
| Minat menggunakan tempat sampah | 46% | 85% | +39 poin |
| Kepuasan terhadap fasilitas | 44% | 84% | +40 poin |
Tim pengembang berharap SmartBIN terus disempurnakan. Pengembangan yang dibayangkan mencakup integrasi sistem pelaporan digital kepada pemerintah daerah, pengolahan sampah organik menjadi kompos untuk kebun sekolah, serta replikasi ke sekolah lain.
Arah itu sejalan dengan penguatan program Sekolah Ramah Anak dan pembangunan sekolah berkelanjutan. Dari persoalan sampah yang awalnya dianggap sederhana, SMP Negeri 11 Samarinda menunjukkan bahwa kolaborasi guru, siswa, dan teknologi bisa menghasilkan perubahan yang nyata.
