Keberadaan teknologi industri dari Jiangxi, China, di Asia Tenggara tidak lagi berhenti pada pengiriman alat produksi. Sejumlah proyek kini sudah merambah desain proses, manufaktur pintar, hingga pembangunan rantai pasok industri di kawasan ini.
Salah satu titik yang paling menonjol ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di lokasi itu, Aman Copper Smelter memproduksi balok katode tembaga berkualitas tinggi dengan desain proses dan peralatan inti dari China Nerin Engineering Co., Ltd.
Proyek di Sumbawa ini memakai teknologi peleburan flotasi putar dan penyulingan flotasi putar, atau rotary flotation smelting + rotary flotation refining. Teknologi tersebut dikenal sebagai double-flash dan disebut sebagai proyek peleburan tembaga proses penuh pertama di luar China yang menggunakannya.
Skala fasilitas ini juga besar. Smelter tersebut memproses 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun dan menghasilkan 220.000 ton katode tembaga LME Grade A per tahun.
Selain produk utama, fasilitas ini juga menghasilkan 18 ton emas, 55 ton perak, dan 850.000 ton asam sulfat setiap tahun. Kombinasi output itu menunjukkan bagaimana satu proyek pengolahan mineral dapat menciptakan nilai tambah yang luas.
China Nerin menyebut proyek ini memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi lokal, mulai dari PDB daerah, penerimaan pajak, hingga pembukaan lapangan kerja. Hingga kini, proyek tersebut telah menciptakan lebih dari 1.200 pekerjaan lokal.
Dari sisi biaya, China Nerin menyebut proyek ini bisa menghemat investasi 50 persen dibandingkan proyek sejenis di Eropa dan Amerika Serikat. Efisiensi itu ikut membuat teknologi dan peralatan asal Jiangxi semakin kompetitif di pasar berkembang.
Teknologi yang disesuaikan dengan kondisi lokal
Ekspansi ke Asia Tenggara tidak dijalankan dengan pola yang sama di semua tempat. Liu Yi, Wakil Manajer Umum China Nerin, menjelaskan bahwa komposisi bijih tembaga di kawasan ini sangat beragam, sehingga proses yang cocok di satu negara belum tentu pas diterapkan di negara lain.
Karena itu, perusahaan menyesuaikan lini produksi dengan kadar bijih lokal. Penyesuaian ini dilakukan agar teknologi tetap efektif meski bahan baku di tiap lokasi memiliki karakter yang berbeda.
Untuk menjawab masalah kompatibilitas mineral, China Nerin mengerahkan tim teknis multidisiplin ke lapangan. Tim itu melakukan survei, mendesain ulang proses peleburan sesuai kebutuhan, lalu menyesuaikan penerapan standar lingkungan dan efisiensi energi dengan regulasi setempat.
Model kerja di lokasi proyek juga dilokalisasi. Perusahaan melatih staf teknis lokal dan membentuk tim gabungan yang berisi personel China serta tenaga kerja dari negara mitra.
Jejak yang meluas ke negara lain
Keterlibatan Jiangxi di Asia Tenggara tidak hanya muncul lewat proyek tembaga di Indonesia. China Nerin juga menyebut telah menjalankan proyek teknologi peleburan rendah karbon di Filipina dan sedang mengembangkan proyek daur ulang sumber daya tembaga di Thailand.
Pola yang sama terlihat pada perusahaan lain dari Jiangxi yang masuk ke sektor berbeda. Jiangxi Hongban Technology Co., Ltd. menanam investasi 110 juta dolar AS untuk membangun basis manufaktur pintar papan sirkuit berpresisi tinggi di Vietnam.
Di Thailand, Jiangxi Hongbai New Materials Co., Ltd. menyuntikkan hampir 100 juta yuan ke anak perusahaannya. Dana itu dipakai untuk mempercepat proyek produksi silana fungsional dan memperkuat rantai pasok industri silana fungsional di Asia Tenggara.
Sementara itu, Jiangxi Weile Technology Co., Ltd. ikut masuk ke rantai pasok produsen otomotif terkemuka di kawasan Asia-Pasifik lewat teknologi inti pembuatan kulkas kendaraan. Produk perusahaan ini telah menjangkau sejumlah negara Asia Tenggara.
Kinerja ekspornya juga mencerminkan besarnya peluang pasar. Produk Jiangxi Weile diperkirakan akan menyumbang hampir 400 juta yuan ke ekspor perdagangan luar negeri.
China Nerin sendiri menyebut kontribusinya mencakup 51 persen dari kapasitas produksi tembaga global. Perusahaan itu juga terlibat dalam desain dan konstruksi lebih dari 70 persen kapasitas produksi tembaga domestik China, yang membuat jejak teknologinya di kawasan semakin mudah dikenali.







