Sony Dihujani Sindiran Gara-Gara AI Xperia 1 VIII, Hasil Foto Justru Dinilai Makin Pudar

Author: Redaksi Android62

Sony justru mendapat gelombang ejekan setelah kampanye AI Camera Assistant untuk Xperia 1 VIII memicu banjir meme di media sosial. Alih-alih menonjol sebagai promosi kamera, unggahan resmi yang memperlihatkan perbandingan hasil foto malah dianggap banyak warganet memperburuk tampilan gambar.

Sorotan paling besar datang dari perbandingan “before and after” yang dibagikan Sony di X. Dalam contoh tersebut, foto asli terlihat punya pencahayaan yang seimbang dan bayangan yang natural, sementara hasil yang dibantu AI justru dinilai lebih terang, pudar, dan jauh dari kesan alami.

Respons cepat dari warganet membuat materi promosi itu berbalik arah. Apa yang semula dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan AI pada Xperia 1 VIII malah berubah menjadi bahan olok-olok yang menyebar luas di platform tersebut.

Klarifikasi Sony soal fitur AI

Menanggapi reaksi yang berkembang, Sony menjelaskan bahwa AI Camera Assistant tidak bekerja sebagai editor otomatis setelah foto diambil. Perusahaan menyebut fitur itu hanya memberikan empat pengaturan dengan arah kreatif berbeda, berdasarkan adegan dan subjek yang dikenali.

Penjelasan ini penting karena banyak pengguna sempat mengira fitur tersebut akan mengolah gambar secara penuh dan menghasilkan satu output final. Sony menegaskan pengguna tetap bisa memilih salah satu opsi yang disarankan atau memakai pengaturan sendiri.

Dengan penjelasan itu, Sony berusaha menempatkan AI Camera Assistant sebagai alat bantu kreatif. Namun, klarifikasi tersebut tidak langsung meredam komentar negatif yang sudah terlanjur meluas.

Meme makin ramai di X

Di X, reaksi pengguna berlangsung cepat dan keras. Banyak akun tidak hanya mengkritik hasil gambar, tetapi juga membuat versi meme “before and after” mereka sendiri dengan gaya yang sengaja berlebihan.

Sejumlah unggahan menampilkan contoh yang dibuat kocak. Ada yang memajang bunga ungu dengan hasil “editan” berupa kotak putih kosong, seolah-olah gambar itu ditingkatkan sampai hilang sama sekali.

Contoh lain menampilkan potret seseorang yang versi AI-nya dibuat sangat terang hingga detail wajah hampir lenyap ke latar belakang. Pola sindiran seperti ini muncul berulang kali, sering disertai caption bernada mengejek seperti “thank you, Sony”.

Percakapan ikut meluas ke figur publik

Gelombang komentar itu tidak berhenti di pengguna biasa. Carl Pei, CEO Nothing, ikut masuk ke percakapan dengan membagikan ulang sampel gambar tersebut dan mempertanyakan apakah itu hanya bentuk “engagement farming”.

Beberapa kreator konten teknologi juga ikut meramaikan diskusi. Mereka membagikan ulang gambar yang beredar sambil mempertanyakan apakah perbandingan tersebut benar-benar nyata.

Keterlibatan figur publik membuat isu ini meluas. Pembicaraan tentang Xperia 1 VIII pun bergeser dari sekadar fitur kamera menjadi cara Sony mempresentasikan teknologi AI di depan publik.

Narasi promosi yang berbalik arah

Bagi banyak pengguna X, yang paling menonjol dari Xperia 1 VIII sekarang justru bukan kecanggihan kameranya. Perhatian publik tertuju pada hasil olahan AI yang dianggap terlalu terang, memudar, dan tidak natural.

Sony tetap berupaya mempertahankan narasi bahwa fitur AI di ponsel itu memberi kontrol kreatif yang lebih luas. Meski begitu, efek viral dari unggahan promosi sudah terlanjur terbentuk.

Belum jelas apakah pemilihan gambar dalam materi promosi itu memang kurang tepat atau justru dimaksudkan untuk memancing perhatian. Yang pasti, Xperia 1 VIII kini menjadi salah satu ponsel yang paling banyak dibicarakan, meski bukan dengan cara yang diharapkan Sony.

Source: www.notebookcheck.net
Berita Terbaru