IHSG tetap bergerak di zona hijau pada sesi pertama perdagangan Jumat, 17 April 2026, meski tekanan jual dari investor asing masih besar. Pada penutupan sesi I, indeks naik 0,20 persen atau 24,43 poin ke level 7.636,89, sementara investor asing justru mencatat jual bersih Rp453,97 miliar.
Pergerakan itu menunjukkan pasar domestik masih punya penopang di tengah arus keluar dana asing. Meski jual bersih asing masih menekan, sentimen dari dalam negeri dan perhatian pada isu global membuat indeks belum kehilangan tenaga.
Rating kredit jadi penahan utama
Salah satu faktor yang menjaga pasar adalah bertahannya rating kredit Indonesia di level BBB oleh S&P Global. Status investment grade ini memberi sinyal bahwa kepercayaan terhadap kualitas kredit Indonesia masih terjaga di tengah kondisi luar negeri yang belum sepenuhnya stabil.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai stabilnya rating tersebut penting bagi pelaku pasar institusional global. Menurut dia, peringkat yang tidak berubah bisa membantu menahan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah atau SBN.
Nico juga menekankan bahwa stabilitas rating berperan dalam menjaga persepsi pasar terhadap daya tahan ekonomi Indonesia. Dalam situasi inflasi global yang masih menjadi perhatian, penahan seperti ini membantu mencegah biaya pendanaan negara naik terlalu cepat.
Pasar masih mencermati risiko eksternal
Di luar faktor domestik, perhatian pelaku pasar juga mengarah ke perkembangan negosiasi nuklir Amerika Serikat dan Iran. Isu ini dinilai bisa memengaruhi persepsi risiko geopolitik dan pada akhirnya berdampak pada minat investor terhadap aset berisiko.
Kondisi global yang belum benar-benar tenang membuat langkah investor cenderung hati-hati. Karena itu, kenaikan IHSG berlangsung tanpa dorongan kuat dari arus dana asing, melainkan lebih karena pasar masih menilai ada bantalan dari sisi fundamental dan sentimen tertentu.
Nico melihat ruang penguatan indeks masih terbatas. Ia memperkirakan area pergerakan teknikal berada pada support dan resistance 7.500 hingga 7.850, sehingga kenaikan yang terjadi belum cukup untuk disebut lepas dari kehati-hatian pasar.
Tekanan asing masih kuat di saham besar
Walau indeks naik, tekanan jual asing tetap terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar. Dalam catatan sesi I, BBRI, BBCA, BMRI, TLKM, dan BBNI masuk daftar top net sell asing.
Pola ini memperlihatkan investor global masih selektif dalam menempatkan dana di pasar saham Indonesia. Minat mereka belum menyebar merata, terutama pada emiten perbankan besar yang selama ini sering menjadi acuan utama pergerakan IHSG.
Di sisi lain, arus beli asing masih muncul pada beberapa saham tertentu. BREN, TPIA, CUAN, ASII, dan AMMN tercatat masuk daftar net buy asing, menandakan dana asing belum sepenuhnya meninggalkan pasar domestik.
Sektor sensitif suku bunga masih menarik perhatian
Nico juga menyoroti peluang pada saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. Sektor perbankan dan properti dinilai masih berpotensi mendapat sentimen positif karena pasar melihat biaya dana dapat lebih stabil setelah kepastian rating kredit dan pertumbuhan ekonomi yang relatif terjaga.
Namun, risiko fiskal tetap menjadi perhatian. Nico mengingatkan bahwa rasio pembayaran bunga utang masih berada di atas 15 persen dalam catatan S&P, sehingga ruang fiskal pemerintah perlu terus didukung oleh peningkatan penerimaan negara yang berkelanjutan.
Jika penerimaan tidak tumbuh cukup kuat, tekanan pada fiskal bisa muncul pada periode berikutnya. Bagi investor, hal ini penting karena stabilitas makroekonomi tetap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah saham dan obligasi.
Di pasar domestik, pergerakan saham pada sesi pertama juga menunjukkan keseimbangan yang cukup lebar. Sebanyak 331 saham menguat, 291 saham melemah, dan 194 saham tidak berubah, dengan nilai transaksi mencapai Rp8,21 triliun dan volume 23,8 miliar lembar saham.
Sisa perdagangan kawasan Asia pun belum memberi arah yang seragam. NIFTY India naik 0,40 persen, sementara KOSPI Korea turun 0,36 persen dan TWSE Taiwan melemah 0,88 persen, sehingga IHSG bergerak di tengah pasar regional yang masih mencari pijakan.







