Spanyol menutup Piala Dunia 2010 dengan gelar juara dunia pertama mereka setelah Andrés Iniesta mencetak gol penentu pada menit ke-116 di Stadion Soccer City, Johannesburg. Kemenangan 1-0 atas Belanda itu lahir di tengah laga final yang keras, penuh duel fisik, dan sempat buntu hingga babak tambahan waktu.
Keberhasilan tersebut juga menandai momen bersejarah lain, karena Spanyol menjadi negara Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia di luar benua mereka sendiri. Dengan gaya Tiki-Taka yang sabar dan rapi, tim asuhan generasi emas itu mampu bangkit setelah memulai turnamen dengan kekalahan 0-1 dari Swiss.
Final yang keras, tetapi ditentukan oleh satu serangan cepat
Belanda berusaha memutus alur permainan Spanyol dengan tekanan agresif sepanjang laga. Salah satu momen paling menegangkan terjadi ketika Nigel de Jong melakukan tendangan kungfu kepada Xabi Alonso, tetapi ia hanya diganjar kartu kuning.
Pertandingan tetap tanpa gol hingga babak tambahan waktu, sebelum rangkaian serangan balik yang diawali Jesús Navas dan diteruskan Cesc Fàbregas berakhir pada sepakan Iniesta. Bola dari pemain Spanyol itu tak mampu dihentikan Maarten Stekelenburg, dan gelar pun resmi menjadi milik La Furia Roja.
Tiki-Taka menjadi senjata utama Spanyol
Perjalanan Spanyol menuju puncak tidak berlangsung mulus pada fase awal. Namun, setelah kekalahan dari Swiss, mereka segera menemukan ritme permainan dan tampil lebih stabil di fase grup maupun fase gugur.
Polanya jelas terlihat dalam cara mereka menguasai bola, mengalirkan umpan pendek, dan menekan lawan secara bertahap. Portugal, Paraguay, dan Jerman kemudian ikut tersingkir sebelum Spanyol mencapai partai final.
Drama Afrika Selatan tak berhenti di final
Piala Dunia 2010 juga dikenang lewat kisah emosional yang menimpa Ghana di perempat final. Sebagai satu-satunya wakil Afrika yang menembus delapan besar, Ghana nyaris mencetak sejarah saat menghadapi Uruguay di Johannesburg.
Dalam pertandingan yang berakhir 1-1 pada perpanjangan waktu, sundulan Dominic Adiyiah sempat mengarah ke gawang yang sudah kosong. Luis Suarez lalu menghentikannya dengan handball di garis gawang, membuat wasit mengusirnya dengan kartu merah dan memberi penalti untuk Ghana.
Asamoah Gyan maju sebagai penendang, tetapi sepakannya membentur mistar gawang. Setelah itu, laga berlanjut ke adu penalti dan Uruguay menang 4-2, sementara peluang Ghana menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal harus kandas dengan cara yang sangat menyakitkan.
Vuvuzela, Waka Waka, dan Paul si Gurita membentuk wajah turnamen
Di luar cerita lapangan, atmosfer turnamen ini sangat khas karena suara Vuvuzela yang terdengar hampir di seluruh stadion. Dentumannya yang panjang dan monoton membuat Piala Dunia 2010 langsung dikenali sebagai edisi yang berbeda dari sebelumnya.
Lagu “Waka Waka” dari Shakira juga ikut melekat kuat dalam ingatan publik. Lagu tersebut menyatu dengan euforia turnamen dan memperkuat kesan bahwa Piala Dunia 2010 merupakan perayaan olahraga dan budaya yang besar.
Nama Paul si Gurita ikut mencuri perhatian dunia dari akuarium Oberhausen, Jerman. Gurita itu dipakai untuk menebak hasil pertandingan dengan cara sederhana, yakni memilih salah satu dari dua kotak makanan yang diberi bendera negara peserta.
Hasilnya mengejutkan banyak orang karena Paul menebak seluruh tujuh pertandingan Jerman dengan benar, termasuk kekalahan dari Serbia dan Spanyol. Ia juga memilih Spanyol sebagai juara dunia, sehingga fenomena “ramalan” itu menjadi salah satu cerita paling populer dari turnamen tersebut.
Catatan penting dari edisi Afrika Selatan
| Fakta | Rincian |
|---|---|
| Tuan rumah | Afrika Selatan |
| Juara | Spanyol |
| Runner-up | Belanda |
| Pencetak gol terbanyak bersama | Thomas Müller, David Villa, Wesley Sneijder, dan Diego Forlán, masing-masing 5 gol |
| Pemegang Golden Boot | Thomas Müller, karena memiliki 3 assist |
| Bola resmi | Adidas Jabulani, yang banyak dikritik karena dianggap licin dan sulit diprediksi |
Dengan campuran atmosfer budaya yang kuat, kisah emosional, dan sepak bola berkelas tinggi, Piala Dunia 2010 tetap menjadi salah satu turnamen paling berwarna dalam sejarah. Dari Vuvuzela dan “Waka Waka” hingga Paul si Gurita dan Tiki-Taka Spanyol, edisi Afrika Selatan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Source: www.medcom.id






