SRBI Diserbu Asing Rp 221,59 T, BI Yakin Rupiah Masih Punya Penyangga Kuat

Bank Indonesia menambah tekanan pada kebijakan moneternya saat pasar masih diguncang gejolak global. Dalam RDG 19-20 Mei 2026, BI menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Kenaikan itu diikuti penyesuaian suku bunga deposit facility menjadi 4,25% dan lending facility menjadi 6,00%. BI menilai langkah tersebut perlu untuk memperkuat stabilisasi rupiah sekaligus merespons tekanan eksternal yang masih tinggi.

Di saat bersamaan, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI justru masih menjadi magnet bagi investor asing. Per 18 Mei 2026, kepemilikan asing di SRBI melonjak menjadi Rp 221,59 triliun, atau setara 24,04% dari total outstanding.

Posisi itu jauh lebih tinggi dibanding akhir 2025, ketika kepemilikan asing baru sekitar Rp 114,1 triliun atau 15,6%. Kenaikan tajam ini menunjukkan SRBI tetap menarik di tengah pasar global yang bergejolak dan tekanan terhadap rupiah.

Total nilai SRBI juga terus menanjak. Hingga 18 Mei 2026, outstanding SRBI mencapai Rp 921,88 triliun, naik dari Rp 730,90 triliun pada akhir tahun lalu.

Bank Indonesia melihat minat tersebut sebagai bukti bahwa imbal hasil instrumen moneter domestik masih kompetitif. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut penguatan struktur suku bunga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

Menurut Perry, kenaikan imbal hasil SRBI diarahkan agar investasi portofolio asing tetap mengalir ke pasar domestik. Karena itu, BI mengandalkan instrumen moneter berbasis pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah situasi yang belum mereda.

Tekanan global yang dihadapi rupiah masih berasal dari konflik di Timur Tengah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan keluarnya modal dari negara berkembang. Pada 19 Mei 2026, rupiah tercatat berada di level Rp 17.700 per dolar AS, atau melemah sekitar 2,20% secara point to point dibanding akhir April 2026.

Untuk meredam gejolak, BI juga terus masuk ke pasar valuta asing. Intervensi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward offshore, pasar spot, dan domestic non-deliverable forward di dalam negeri.

Di sisi lain, BI turut membeli surat berharga negara atau SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Hingga 19 Mei 2026, total pembelian SBN oleh BI mencapai Rp 140,57 triliun.

Dari jumlah itu, Rp 73,28 triliun berasal dari pasar sekunder dan ikut membantu menjaga likuiditas pasar. BI menilai langkah-langkah tersebut penting agar rupiah tetap stabil dan berpeluang menguat kembali di tengah prospek ekonomi Indonesia yang masih solid.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait