Serangan balasan Iran ke wilayah Israel setelah serangan di Beirut Selatan memperlihatkan satu hal yang sangat jelas: Teheran ingin menegaskan bahwa serangan terhadap sekutunya tidak bisa diperlakukan terpisah dari serangan terhadap dirinya sendiri.
Langkah itu datang setelah Israel menyerang sebuah bangunan yang diduga terkait Hizbullah di Beirut Selatan. Serangan tersebut terjadi ketika gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat baru saja diperbarui, sehingga dampaknya langsung meluas dari ranah militer ke ranah politik.
Pesan untuk Israel dan jaringan sekutu Iran
Balasan Iran tampaknya tidak dirancang semata sebagai reaksi emosional. Sebaliknya, Teheran mengirim pesan pencegahan bahwa serangan terhadap mitra regionalnya akan dianggap sebagai ancaman yang juga menyentuh Iran.
Pesan seperti itu penting bagi jaringan yang selama ini dikenal sebagai “Poros Perlawanan”, termasuk Hizbullah dan milisi Irak. Kredibilitas Iran di mata jaringan itu sangat bergantung pada keyakinan bahwa Teheran akan berdiri di belakang mitranya saat mereka diserang.
Perhitungan di tengah diplomasi yang rapuh
Waktu serangan ini membuat situasinya semakin sensitif karena bersinggungan dengan negosiasi perdamaian yang rapuh dengan Amerika Serikat. Pada saat yang berdekatan, Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan mungkin segera tercapai dan meminta Iran menghindari tindakan yang dapat membahayakan diplomasi.
Namun, dari sudut pandang Iran, pengerahan kekuatan militer yang terbatas justru bisa menjadi alat untuk memperkuat posisi di meja perundingan. Teheran tampaknya ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki pilihan untuk menentukan arah sendiri, tanpa harus sepenuhnya tunduk pada tekanan lawan.
Rasa percaya diri yang tumbuh setelah konflik panjang
Sebagian pembacaan atas langkah ini berkaitan dengan cara para pemimpin Iran menilai posisi mereka setelah berbulan-bulan konflik. Iran memang keluar dari perang dalam keadaan melemah di beberapa sisi, tetapi juga dengan rasa ketahanan diri yang lebih kuat.
Meski menghadapi tekanan militer Israel dan Amerika, termasuk sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut AS, Iran tetap bertahan. Pemerintahnya masih berkuasa, aparat keamanannya tetap utuh, dan tidak ada pemberontakan massal yang terwujud seperti yang kerap diprediksi lawan-lawan Iran.
Reaksi di dalam negeri dan arah politik berikutnya
Di dalam Iran, reaksi terhadap serangan balasan itu tidak seragam. Sebagian warga menilainya sah karena dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap Lebanon dan jawaban atas pelanggaran gencatan senjata.
Sebagian lain mempertanyakan prioritas Teheran ketika sejumlah pertempuran di Iran Selatan belum mendapat respons serius. Ada pula yang cemas konflik akan kembali meluas, meski ada juga yang menilai serangan kali ini tidak akan berubah menjadi perang besar seperti dua konflik sebelumnya.
Pengaruh di kawasan masih jadi taruhan utama
Kemungkinan lain, serangan ini menunjukkan ketidakpuasan Iran terhadap arah negosiasi. Jika Teheran merasa diminta memberi konsesi tanpa imbalan yang sepadan, aksi militer bisa menjadi alat untuk meningkatkan pengaruh sebelum putaran pembicaraan berikutnya.
Pertanyaan terpenting kini bukan hanya apakah Iran siap menghadapi serangan Israel lagi. Yang sama pentingnya adalah apakah Iran merasa cukup percaya diri untuk terus menekan secara militer sambil tetap bernegosiasi dan menjaga garis pengaruhnya di kawasan.
Dalam konteks itu, serangan ke Israel setelah insiden di Beirut Selatan menjadi lebih dari sekadar balasan singkat. Aksi tersebut memperlihatkan bahwa Teheran masih ingin dipandang sebagai penentu arah bagi sekutu-sekutunya, sekaligus sebagai aktor yang tidak mudah dipaksa mundur di tengah tekanan politik dan militer.
Source: www.bbc.com






