Pembentukan serikat pekerja menandai perubahan penting di Starbucks Korea, setelah polemik promosi “Tank Day” berujung pada pengunduran diri CEO perusahaan. Organisasi ini muncul di tengah tuntutan pekerja atas perlindungan hak dan perbaikan kondisi kerja.
Starbucks Korea mengonfirmasi keberadaan serikat tersebut pada Minggu, 19 Juli 2026. Perusahaan tidak membeberkan jumlah dari sekitar 23.000 pekerjanya yang telah bergabung.
Tuntutan atas hubungan kerja yang setara
Dalam pernyataan yang dipublikasikan Federasi Serikat Pekerja Kimia, Tekstil, dan Pangan Korea pada 16 Juli 2026, serikat menyatakan ingin membangun relasi yang lebih seimbang dengan manajemen. Mereka menilai langkah-langkah sebelumnya untuk memperbaiki situasi kerja belum memperoleh tanggapan memadai dari perusahaan.
Kelompok pekerja itu juga menyoroti bertambahnya beban kerja akibat program promosi yang terus diluncurkan Starbucks Korea. Serikat tidak secara langsung menyebut promosi “Tank Day” dalam pernyataannya.
“Waktunya telah tiba bagi kami untuk memperjuangkan hak-hak kami dan membangun kembali hubungan antara pekerja dan manajemen secara setara,” demikian pernyataan serikat tersebut. Pernyataan itu memperlihatkan dorongan pekerja untuk memiliki ruang dialog yang lebih kuat dalam pengambilan kebijakan perusahaan.
| Peristiwa | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Pernyataan serikat | 16 Juli 2026 | Menyoroti hak pekerja dan beban kerja |
| Konfirmasi perusahaan | 19 Juli 2026 | Starbucks Korea membenarkan pembentukan serikat |
| Promosi “Tank Day” | 18 Mei | Digelar bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju |
Polemik promosi di tanggal sensitif
Kontroversi yang mendahului pembentukan serikat berawal dari promosi gelas pakai ulang “Tank Day” pada 18 Mei. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan ke-46 Pemberontakan Gwangju, gerakan prodemokrasi yang ditindak secara represif oleh pemerintah pada 1980.
Promosi itu menuai kecaman karena dipandang membangkitkan memori traumatis terkait peristiwa Gwangju. Data resmi mencatat 165 warga sipil meninggal dalam peristiwa tersebut.
Dampak kontroversi tidak hanya berupa kritik dari publik. CEO Starbucks Korea kemudian mengundurkan diri, sementara penjualan perusahaan dilaporkan turun pada beberapa hari awal setelah polemik mencuat.
Perusahaan juga menutup lebih awal lebih dari 2.000 gerai di seluruh Korea Selatan. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan edukasi kepada karyawan mengenai makna historis Pemberontakan Gwangju.
Respons perusahaan dan arti pasar Korea
Seorang pejabat Starbucks Korea menyatakan perusahaan akan tetap berkomunikasi dengan serikat pekerja sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Pernyataan itu menjadi respons awal manajemen terhadap organisasi pekerja pertama sejak Starbucks beroperasi di Korea Selatan pada 1999.
Menurut Beritasatu.com yang mengutip AFP, Korea Selatan merupakan pasar Starbucks terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China. Besarnya jaringan serta jumlah pekerja membuat perundingan mengenai beban promosi dan hak pekerja berpotensi menjadi perhatian penting bagi perusahaan.
Keberadaan serikat menempatkan hubungan kerja di Starbucks Korea dalam fase baru. Sikap manajemen terhadap tuntutan pekerja akan menentukan arah dialog di jaringan kedai kopi tersebut pada masa mendatang.
Source: www.beritasatu.com






