Starbucks kembali memilih jalan pemangkasan organisasi untuk menjaga mesin labanya tetap bergerak. Perusahaan akan menghapus 300 posisi korporat di Amerika Serikat, terutama dari kelompok pekerja non-ritel dan divisi teknologi, sebagai bagian dari dorongan efisiensi yang lebih agresif.
Langkah itu tidak muncul saat bisnis sedang tertekan. Penjualan Starbucks di Amerika Serikat justru naik 7,1 persen pada kuartal terakhir, sehingga manajemen memanfaatkan momentum perbaikan itu untuk merapikan struktur internal dan menekan biaya lebih jauh.
Biaya restrukturisasi yang besar
Penataan ulang ini diperkirakan menghabiskan sekitar 400 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, 120 juta dolar AS dialokasikan untuk pesangon tunai, sedangkan 280 juta dolar AS lainnya berupa beban non-tunai aset.
Starbucks menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari “Back to Starbucks strategy”. Perusahaan ingin membangun momentum yang sudah ada dan mengarah pada pertumbuhan yang lebih tahan lama serta menguntungkan.
Manajemen juga menegaskan bahwa para pemimpin divisi telah meninjau fungsi kerja masing-masing secara mendalam. Tujuannya untuk mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya.
Teknologi ikut terkena penyesuaian
Di kantor pusat Seattle, 61 pekerja dari divisi teknologi diberhentikan secara permanen. Reorganisasi di area ini dijadwalkan berlangsung antara Juni hingga Agustus 2026.
Fokus baru perusahaan juga mengarah pada percepatan layanan dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk efisiensi stok barang. Starbucks mengatakan investasinya tetap akan diarahkan ke bagian yang dinilai paling penting bagi pertumbuhan jangka panjang.
Brian Niccol menyebut capaian kuartal kedua fiskal perusahaan sebagai tonggak penting dalam proses pembalikan bisnis. Dalam video laporan keuangan, ia mengatakan strategi “Kembali ke Starbucks” menjadi inti pemulihan dan pekerjaan internal berjalan lebih cepat dari target yang telah ditetapkan.
Efisiensi di tengah kondisi bisnis yang membaik
Pemangkasan ini memperlihatkan pilihan manajemen untuk berbenah saat kinerja domestik sedang menguat. Dengan penjualan Amerika Serikat yang naik 7,1 persen, Starbucks tampak ingin menjaga momentum sambil merapikan organisasi agar operasi lebih sederhana.
Keputusan itu juga sejalan dengan langkah perusahaan menutup sejumlah kantor dukungan regional dan menilai ulang struktur internal. Arah ini menunjukkan upaya memangkas beban kerja yang dianggap kurang tajam sekaligus menjaga biaya tetap rendah.
Di saat gelombang PHK masih terjadi di banyak perusahaan besar, langkah Starbucks menambah daftar restrukturisasi korporat yang berfokus pada efisiensi. Namun, menurut Colleen McCreary, Chief People Officer di Credit Karma, peluang kerja penuh waktu masih tetap terbuka di sejumlah sektor tertentu.
McCreary menyoroti pertumbuhan positif di industri pengiriman makanan, teknologi untuk pekerja jarak jauh, hiburan daring, serta layanan virtual relaxation dan mindfulness. Ia menilai pasar kerja sangat bergantung pada wilayah dan sektor, sehingga ada area yang tertekan tetapi ada juga yang justru berkembang.
Bagi Starbucks, seluruh penyesuaian ini memperlihatkan prioritas baru yang jelas. Perusahaan ingin menjaga keseimbangan antara penghematan biaya dan investasi pertumbuhan, sambil memastikan struktur korporatnya lebih ramping untuk mendukung strategi jangka panjang.







