Harga STRC milik Strategy kembali melemah dan kini mendekati level terendahnya, memunculkan pertanyaan baru soal biaya dari strategi pembelian Bitcoin yang agresif. Saham preferred perpetual itu turun 3,58% ke $91,79 pada Selasa, atau 8,2% di bawah nilai pari $100.
Tekanan ini terasa lebih tajam karena STRC dirancang sebagai instrumen pendapatan dengan eksposur ke Bitcoin. Produk bernama Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock, atau “Stretch”, itu menawarkan dividen variabel dengan target nilai $100 per saham dan tanpa tanggal jatuh tempo.
Model pendanaan Strategy ikut ikut teruji
Nilai pari $100 menjadi titik penting bagi Strategy. Saat STRC diperdagangkan di atau di atas level itu, perusahaan bisa menerbitkan saham baru lewat program at-the-market dengan lebih efisien.
Namun, ketika harga berada di bawah pari, mesin pendanaan tersebut melambat dan penerbitan baru menjadi kurang menarik. Menurut Cointelegraph, STRC sudah berada di bawah par sejak 15 April, sehingga tekanan yang terjadi bukan hanya bersifat harian.
Bagi investor, keadaan ini menyorot benturan antara prioritas akumulasi Bitcoin Michael Saylor dan kewajiban tunai kepada pemegang preferred yang dijanjikan dividen tetap sekitar 11,5%. Setiap dolar yang dialokasikan untuk membeli BTC berarti satu dolar yang tidak disimpan sebagai cadangan dividen.
Bitcoin turun, sentimen risiko ikut menekan
Penurunan STRC terjadi saat Bitcoin turun 2,5% semalam ke sedikit di bawah $65.000. Sebelumnya, aset kripto itu sempat naik ke $67.000 pada awal pekan sebelum terkoreksi dalam 24 jam terakhir.
Dalam situasi seperti ini, pasar menilai ulang keamanan dividen STRC. Produk tersebut dipasarkan sebagai alternatif “digital credit” bagi dana pasar uang, dengan imbal hasil yang ditopang oleh kepemilikan Bitcoin perusahaan, tetapi kekhawatiran tetap muncul ketika kas lebih dipandang sebagai penopang utama dividen.
Nick Ruck dari LVRG Research mengatakan sentimen risk-off yang lebih luas di kripto turut menekan minat investor. Ia juga menyoroti bahwa dividen variabel yang menawarkan imbal hasil di atas 12% masih diuji oleh tekanan jual dan kekhawatiran atas struktur modal Strategy yang kian besar.
Struktur modal yang makin berat
Strategy disebut memiliki runway kas sekitar 21 bulan dan tidak ada pemicu margin call. Meski begitu, pemegang STRC tetap memandang pembelian Bitcoin sebagai prioritas yang bisa mengurangi ruang aman untuk dividen, terutama saat harga aset digital melemah.
Dengan sekitar $21 miliar kewajiban utang, setiap penerbitan preferred baru ikut menambah kerumitan struktur modal perusahaan. Kondisi itu membuat lebih sulit bagi satu instrumen untuk mempertahankan patokan harganya secara stabil.
Tekanan ini juga merembet ke saham MSTR milik Strategy. Saham tersebut turun 6,35% ke $122,81 dan mencatat penurunan 67% dalam setahun terakhir.
Pasar tampak sedang menilai ulang premi yang dulu dibayar investor untuk MSTR sebagai taruhan leverage pada Bitcoin. Pada puncaknya di akhir 2024, MSTR diperdagangkan lebih dari 2,4 kali nilai aset bersihnya, tetapi pada Januari 2026 premi itu turun menjadi sekitar 1,1 kali.
Di awal Juni, Strategy juga melakukan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022 dengan melepas 32 BTC senilai $2,5 juta. Langkah kecil itu tetap penting secara psikologis karena mematahkan narasi bahwa perusahaan tidak pernah menjual kepemilikan BTC-nya.
Persaingan produk sejenis makin ketat
Tekanan pada STRC semakin terasa karena ada pembanding yang lebih kuat di pasar. SATA, saham preferred variable-rate milik Strive, diperdagangkan tepat di $100 atau sesuai nilai pari, dengan imbal hasil efektif sekitar 13%.
Bagi investor pendapatan tetap, kontrasnya cukup jelas. SATA menawarkan struktur yang mirip, imbal hasil lebih tinggi, dan tidak diperdagangkan dengan diskon, sementara STRC masih membawa bayang-bayang risiko dari strategi akumulasi Bitcoin yang kontroversial.
Saat dua produk serupa bergerak di pasar yang sama tetapi satu bertahan di pari dan yang lain terdiskon 8,2%, preferensi pasar menjadi sulit diabaikan. Lanskap produk investasi yang terkait Bitcoin juga makin ramai, dengan ETF Bitcoin berimbal hasil dan produk institusional lain yang menambah pilihan bagi investor yang ingin eksposur kripto sekaligus pendapatan.
Dalam kondisi itu, daya tarik STRC sebagai produk yang relatif unik ikut menyempit. Pasar kini tidak hanya menilai potensi imbal hasilnya, tetapi juga seberapa besar tekanan yang ditimbulkan oleh struktur modal Strategy dan taruhan Bitcoin yang menopang seluruh narasi investasinya.
