Stupid Never Dies datang dengan pendekatan yang tidak lazim di tengah game aksi modern yang biasanya menuntut penghindaran sempurna dan parry presisi. Game ini justru mendorong pemain untuk bertahan dalam adu jotos brutal, menyerap serangan, lalu membalas lewat Davy, seorang zombie yang terus maju menghajar semua yang ada di hadapannya.
Pendekatan itu membuat proyek perdana GPTRACK50 Inc ini menonjol sejak awal. Di baliknya ada nama-nama yang sangat akrab bagi penggemar game aksi dan horor, termasuk Eiichiro Sasaki sebagai direktur dan Hiroyuki Kobayashi sebagai pendiri sekaligus kepala studio.
Warisan Capcom yang dibawa ke arah baru
Sasaki bukan sosok asing di ranah game aksi. Ia sebelumnya lama bekerja di Capcom dan pernah menjadi direktur untuk dua game Resident Evil Outbreak serta Resident Evil 6.
Kobayashi juga membawa rekam jejak panjang dari Capcom selama tiga dekade, dengan keterlibatan dalam Devil May Cry, Resident Evil, Dino Crisis, dan sejumlah seri lain. Tim pengembangnya turut diperkuat Genseki Tanaka, yang juga berpengalaman di Capcom dan pernah menjadi art director untuk Far Cry 3 serta Far Cry 4.
Meski latar belakang para penggarapnya sangat mapan, arah kreatif yang dipilih justru tidak bermain aman. Sasaki menegaskan bahwa tim ingin membuat sesuatu yang berbeda, bukan sekadar mengulang formula yang sudah mereka kuasai selama ini.
Premis liar dengan nada punk rock
Di dalam permainan, pemain mengendalikan Davy, seorang pemuda yang baru berubah menjadi zombie. Cerita dimulai di dunia yang baru saja keluar dari perang besar dan membuat umat manusia berada di ambang kepunahan.
Davy lalu masuk ke sebuah toko kosong dan menemukan seorang gadis cantik yang membeku di freezer. Dari titik itu, alurnya bergerak dengan sengaja berlebihan karena Davy langsung jatuh cinta dan memutuskan melawan seluruh monster demi mencari obat untuk membangkitkan sang gadis.
Seluruh presentasi dibungkus dengan gaya punk rock yang agresif. Warna-warna cerah memenuhi layar, bahasa kasar kerap muncul, dan unsur kekerasan dibuat sangat menonjol sepanjang permainan.
Sasaki bahkan menyebut desain Davy terinspirasi langsung dari vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong. Ia juga menjelaskan bahwa judul game ini lahir dari ide sederhana, yakni tokohnya lemah dan tidak pintar, tetapi terus bergerak karena dorongan cinta yang konyol.
Gabungan roguelike, RPG, dan brawler
Secara genre, Stupid Never Dies tidak ingin dikurung dalam satu kategori. Game ini memadukan roguelike, RPG, dan brawler dalam satu paket yang mengandalkan pertarungan jarak dekat serta perkembangan karakter yang terus tumbuh.
Davy memiliki serangan dasar, gerakan menghindar sederhana, dan gaya main yang lebih menekankan pengelolaan kesehatan serta kombo daripada refleks cepat. Ia juga bisa menggigit musuh untuk memulihkan HP, lalu mencabik inti lawan untuk mencuri kekuatan dan berubah menjadi monster lain.
Dalam sesi permainan, dua transformasi yang tersedia adalah Werewolf dan Harpy. Keduanya membuka kombo dan kemampuan baru, sementara modifikasi tubuh di fase lanjut bisa memberi Davy senjata seperti bilah raksasa untuk membelah musuh dan peluncur misil otomatis.
Struktur roguelike muncul saat pemain meninggalkan markas utama berupa mal terbengkalai. Kepergian itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, yakni tersiram ke toilet, lalu pemain menjalani satu run melewati rangkaian ruangan dan mendapat peningkatan setelah tiap pertempuran.
Sistem progresi yang tidak biasa
Yang membuat struktur permainan ini semakin menarik adalah sistem progresi permanennya. Davy tidak hanya naik level dalam satu run, karena game ini juga memakai persentase level-up keseluruhan yang terus bertambah sepanjang permainan.
Semakin tinggi persentase itu, semakin cepat Davy naik level, sehingga area awal menjadi makin mudah seiring kemajuan pemain. Saat area baru terbuka, pemain bisa langsung melangkah ke depan atau kembali memainkan area lama untuk mengumpulkan upgrade dan level tambahan.
Sasaki menggambarkan struktur tersebut sebagai versi RPG yang sangat dipadatkan, dengan pertumbuhan yang biasanya memakan 20 sampai 30 jam lalu diperas menjadi sekitar 30 menit. Ia juga menempatkan Stupid Never Dies di wilayah yang berbeda dari roguelike murni karena menggabungkan pertumbuhan parameter ala RPG dengan tuntutan skill ala game aksi seperti Devil May Cry.
Kesan awal yang makin terbuka
Pada awalnya, game ini memang terasa agak kaku. Namun, kesan itu berubah ketika lebih banyak transformasi dan skill terbuka, karena sistem pertarungannya menjadi jauh lebih dalam.
Yang paling menonjol dari Stupid Never Dies bukan hanya mekaniknya, tetapi juga karakter dan selera humornya. Ada detail kecil seperti boneka beruang di kanan atas layar yang memegang jam penanda waktu tiap run, lalu bergerak makin liar saat waktu hampir habis.
Kombinasi antara estetika punk rock, premis absurd, dan desain yang terasa jujur membuat game ini tampil berbeda dari kebanyakan game aksi modern. Tantangan berikutnya tinggal bagaimana menjaga energi itu tetap segar selama puluhan jam, tetapi fondasi kreatifnya sudah cukup kuat untuk menarik perhatian.
