Subsidi Kendaraan Listrik Dipacu, Purbaya Bidik Ekonomi 2026 Tetap Melaju Di Atas 5,5 Persen

Author: Redaksi Android62

Pemerintah menyiapkan insentif kendaraan listrik sebagai salah satu dorongan baru untuk menjaga laju ekonomi tetap kuat pada 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat kebijakan ini bisa langsung menggerakkan sektor riil dan membantu pertumbuhan ekonomi menembus di atas 5,5 persen pada kuartal III dan IV 2026.

Sasaran kebijakan tersebut adalah mobil listrik dan motor listrik. Skema subsidi akan diberlakukan mulai Juni dengan total alokasi untuk 200 ribu unit kendaraan listrik.

Dari jumlah itu, 100 ribu unit akan menerima insentif Rp5 juta per unit. Sementara itu, 100 ribu unit lainnya akan memperoleh fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP.

Besaran PPN DTP untuk mobil listrik berada di kisaran 40 hingga 100 persen. Nilainya bergantung pada jenis baterai yang digunakan pada kendaraan tersebut.

Dorongan ke penjualan dan industri pendukung

Purbaya menilai insentif ini tidak berhenti pada tambahan penjualan kendaraan. Ia melihat efeknya juga dapat merambat ke industri otomotif dan rantai pasok yang terhubung langsung dengan kendaraan listrik.

Pemerintah ingin kebijakan itu ikut memicu aktivitas di sektor manufaktur dan jasa pendukung. Dengan begitu, dorongan ekonomi tidak hanya berasal dari konsumsi, tetapi juga dari produksi yang bergerak lebih luas.

Langkah ini menjadi penting karena pemerintah berharap pertumbuhan tidak bertumpu pada satu sumber saja. Efek kebijakan diharapkan menyebar ke lebih banyak aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan kendaraan listrik.

Ekspor tetap dipertahankan sebagai mesin lain

Selain mengandalkan insentif EV, pemerintah juga menyiapkan perhatian pada sektor berorientasi ekspor. Purbaya menilai sektor ini tetap dibutuhkan agar ekonomi tidak kehilangan tenaga.

Ia menyoroti kebutuhan akses pendanaan yang lebih baik dan lebih murah bagi perusahaan ekspor, termasuk tekstil, furniture, dan sepatu. Dalam waktu dekat, ia akan memanggil rapat untuk membahas hal itu.

Fokus pada sektor ekspor menunjukkan pemerintah ingin menjaga dua penggerak sekaligus. Di satu sisi ada dorongan konsumsi lewat kendaraan listrik, sementara di sisi lain ada penguatan produksi dari industri ekspor.

Modal awal dari kinerja ekonomi yang masih positif

Optimisme pemerintah juga ditopang oleh capaian ekonomi pada awal 2026. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen, lebih tinggi dibanding 5,39 persen pada kuartal IV 2025.

Capaian itu memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga momentum di paruh kedua tahun tersebut. Jika insentif kendaraan listrik berjalan sesuai rencana dan akses pendanaan industri ekspor membaik, Purbaya melihat peluang ekonomi tetap bertahan di atas 5,5 persen.

Berita Terbaru