Suhu Baterai Disorot di Tengah Kejar-kejaran Geely dan BYD, Flash Charging Makin Panas

Author: Redaksi Android62

Batas suhu baterai kembali menjadi titik paling sensitif dalam persaingan pengisian daya super cepat di China. Geely menyoroti angka 65°C dan langsung memicu tafsir bahwa pesan itu ditujukan kepada BYD.

Perdebatan ini tidak hanya soal kecepatan mengisi daya, tetapi juga soal seberapa jauh teknologi kendaraan listrik bisa dipacu tanpa mengorbankan keamanan. Saat arus pengisian makin besar, manajemen panas menjadi ukuran yang ikut menentukan masa depan flash charging.

Geely mengangkat angka 65°C ke pusat perdebatan

Dalam unggahan di akun resmi WeChat pada Selasa, Geely memakai judul tegas, “Temperature above 65°C? Not recommended!”. Perusahaan itu merujuk standar nasional China GB/T44500-2024 yang menyebut suhu pengisian maksimum untuk baterai lithium iron phosphate atau LFP tidak boleh melampaui 65°C.

Geely tidak menyebut nama pesaing secara langsung. Namun banyak pihak menilai sindiran itu mengarah ke BYD, yang tengah gencar mempromosikan Blade Battery generasi kedua dan teknologi flash charging 1.500 kilowatt.

Geely juga membawa argumen fisika ke dalam debat ini. Perusahaan itu mengutip hukum Joule dan menjelaskan bahwa panas baterai meningkat secara eksponensial ketika arus naik, sehingga pengisian yang lebih cepat akan mendorong suhu sel naik lebih cepat pula.

Respons Geely soal keamanan dan hasil uji baterai

Geely menyebut Shendun Golden Battery miliknya mampu menjaga suhu puncak di 64°C selama pengisian level megawatt penuh. Data itu berasal dari pengujian China Automotive Technology & Research Center, dan Geely menegaskan baterai tersebut telah lolos sertifikasi GB38031-2025 pada Mei lalu.

Standar GB38031-2025 bahkan disebut sebagai “strictest battery safety order in history”. Bagi Geely, kecepatan isi daya tidak cukup jika keamanan termal belum benar-benar terjaga.

Uji BYD yang memicu polemik

Kontroversi ini berawal dari uji langsung seorang blogger industri baterai pada 6 Mei terhadap model flash charging BYD, Fang Cheng Bao Tai 3. Dalam suhu sekitar 25°C, mobil itu disebut mengisi daya dari 9% ke 97% hanya dalam 9 menit 9 detik.

Uji tersebut juga mencatat suhu di beberapa titik melampaui 74°C, dengan puncak 76,42°C. Blogger itu menyebut suhu pengisian baterai umumnya berada di sekitar 60°C dan pada dasarnya tidak diperbolehkan melewati 70°C.

Ia menambahkan risiko gassing elektrolit serta potensi dekomposisi lapisan SEI jika suhu terlalu tinggi. Dari sana, pembicaraan soal kecepatan pengisian bergeser menjadi debat soal batas aman baterai.

BYD dan Gotion High-tech ikut memberi jawaban

BYD menanggapi polemik itu secara singkat melalui Li Yunfei, general manager branding and public relations. Pada 7 Mei, ia menulis di Weibo bahwa siapa pun dipersilakan datang ke Flaming Mountains di Turpan, Xinjiang, pada puncak panas Juli dan Agustus untuk mencoba flash charging di sana.

Pada 17 Mei, seorang eksekutif Gotion High-tech turut menyebut ultra-fast charging memang memengaruhi umur baterai. Dalam sebuah konferensi industri, ia mengatakan suhu operasi aman untuk baterai LFP adalah 60°C.

Pernyataan Isi yang disebutkan
Batas suhu LFP 60°C dianggap aman, 70°C disebut mulai bermasalah
Perilaku material Lithium hexafluorophosphate mulai terurai perlahan pada 60°C
Suhu lebih tinggi Material itu terdekomposisi lebih cepat pada 70°C

BYD menolak anggapan flash charging merusak baterai

Respons BYD menjadi lebih tegas ketika Sun Huajun, chief technology officer di kelompok bisnis baterai, berbicara kepada media China pada 19 Mei. Ia menolak klaim bahwa flash charging merusak baterai dan menyebut pertanyaan serupa sudah muncul setiap kali teknologi baterai melonjak dari 1C dan 2C ke 4C dan 5C.

Menurut Sun, struktur simetris Blade Battery memungkinkan arus keluar dari kedua ujung, sementara permukaan atas dan bawah sama-sama melepas panas. Ia mengatakan rancangan itu membuat hambatan termal relatif lebih rendah.

Sun juga menuturkan bahwa BYD telah mengoptimalkan dimensi Blade Battery generasi kedua untuk mendukung flash charging. Saat ditanya apakah 70°C adalah batas baterai, ia menjawab tidak, seraya mengingatkan bahwa beberapa tahun lalu industri masih menganggap ambang suhu tinggi untuk baterai LFP hanya 60°C.

Rivalitas penjualan ikut menambah bobot isu

Di luar debat teknis, persaingan Geely dan BYD juga berlangsung ketat di pasar. Berdasarkan data China Passenger Car Association, Geely memimpin penjualan ritel mobil di China untuk lima bulan pertama 2026 dengan 848.116 unit, meski turun 17,7% secara tahunan.

BYD berada di posisi kedua dengan 766.401 unit, turun 39,1% secara tahunan. Pada segmen kendaraan energi baru atau NEV, BYD tetap nomor satu, sedangkan Geely berada di posisi kedua dengan 470.396 unit.

BYD sudah berhenti memproduksi kendaraan berbahan bakar murni sejak Maret 2022 dan kini fokus pada model NEV, termasuk BEV dan PHEV. Geely masih mempertahankan lini mobil berbahan bakar, sehingga persaingan keduanya tetap berbeda meski sama-sama kuat di pasar China.

Source: cnevpost.com
Berita Terbaru