Suhu udara yang terasa menyengat pada siang hari bukan muncul tanpa sebab. Data suhu maksimum harian BMKG pada Senin (27/4/2026) menunjukkan beberapa daerah sudah berada di atas 35 derajat Celsius, dengan Medan mencapai 36,8 derajat Celsius dan Aceh Utara 36,6 derajat Celsius.
Kondisi panas serupa juga tercatat di Ciputat 36,2 derajat Celsius, Deli Serdang 36,0 derajat Celsius, Palu 35,9 derajat Celsius, Lampung Utara 35,6 derajat Celsius, Serang 35,6 derajat Celsius, Curug 35,5 derajat Celsius, hingga Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur dan Cirebon yang sama-sama mencatat 35,0 derajat Celsius. Sebaran angka itu menunjukkan bahwa udara panas tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, melainkan melanda banyak daerah sekaligus.
Apa yang membuat siang terasa lebih terik
BMKG menjelaskan bahwa panas yang terasa belakangan ini dipengaruhi beberapa faktor yang saling menguatkan. Awal musim kemarau, minimnya tutupan awan, dan hembusan angin timuran dari Australia membuat sinar matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi.
Saat awan hujan jarang terbentuk, radiasi matahari tidak banyak terhalang. Akibatnya, permukaan bumi lebih cepat memanas dan suhu udara ikut naik, terutama pada jam-jam tengah hari.
BMKG juga menyebut posisi semu matahari pada April masih berada dekat wilayah Indonesia bagian utara. Karena itu, penyinaran matahari terasa lebih kuat dan panasnya lebih mudah dirasakan di banyak daerah.
Mengapa panas tidak terasa sama di semua tempat
Meski suhu siang hari tinggi, cuaca tropis Indonesia tetap bergerak dinamis. BMKG mengingatkan bahwa Madden-Julian Oscillation atau MJO dan gelombang ekuator masih dapat memicu pertumbuhan awan tebal serta hujan dengan intensitas signifikan di beberapa daerah dalam beberapa pekan ke depan.
Artinya, tidak semua wilayah akan mengalami kondisi langit cerah dan panas terik secara serempak. Pada masa peralihan seperti ini, ada daerah yang masih berpotensi diguyur hujan, sementara daerah lain justru merasakan panas yang lebih menyengat pada waktu yang sama.
Kapan kondisi ini mulai bergeser
BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia mulai April 2026, dengan sekitar 7 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Jumlah wilayah yang masuk musim kemarau diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni 2026.
Secara klimatologis, puncak suhu panas diperkirakan terjadi pada Mei 2026. Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada Agustus–September 2026, sehingga suhu tinggi masih berpotensi bertahan cukup lama di banyak wilayah.
Dengan kondisi tersebut, panas yang terasa di siang hari belum akan cepat hilang. Selama musim kemarau masih berlangsung dan tutupan awan tetap minim, paparan matahari pada jam terkuat tetap berpeluang membuat udara terasa lebih terik di berbagai daerah.
Source: jatim.tribunnews.com






