Area 7.900 kini menjadi garis yang paling diperhatikan setelah IHSG ditutup melemah 2 persen ke level 7.935,26. Tekanan jual yang meluas membuat area itu berubah dari sekadar angka psikologis menjadi ujian nyata bagi pasar dalam menahan laju koreksi.
Pergerakan terakhir menunjukkan pasar saham domestik sedang berada dalam fase yang rapuh. Meski transaksi tetap ramai, sentimen negatif dari luar negeri dan kekhawatiran terhadap rupiah ikut menekan kepercayaan investor sepanjang perdagangan.
Bursa Efek Indonesia mencatat 673 saham berakhir di zona merah. Pada saat yang sama, hanya 118 saham yang menguat dan 167 saham bergerak stagnan, sehingga pelemahan indeks terjadi dalam suasana pasar yang didominasi aksi jual.
Nilai transaksi harian pada sesi terakhir tercatat mencapai Rp19,2 triliun. Aktivitas perdagangan juga tergolong tinggi dengan volume 32,74 miliar saham dan frekuensi 2,2 juta kali transaksi, menandakan minat transaksi tetap besar meski indeks terkoreksi tajam.
Kapitalisasi pasar IHSG masih berada di Rp14.341 triliun. Angka ini menunjukkan daya tahan pasar masih terjaga, walaupun tekanan jual meluas di banyak saham.
Di tengah pelemahan itu, investor asing sempat mencatat beli bersih Rp440,7 miliar pada sesi pertama perdagangan. Total pembelian asing mencapai Rp3,5 triliun, sedangkan penjualan mereka Rp3,1 triliun.
Tekanan datang dari luar negeri
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari dinamika politik internasional dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung menahan diri dan lebih cepat melepas saham saat ketidakpastian meningkat.
Kekhawatiran terhadap rupiah yang sempat disebut berpotensi menembus 17.000 juga ikut membebani sentimen. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya lebih sensitif terhadap risiko dan memilih mengurangi eksposur.
Aksi jual yang muncul luas memperlihatkan bahwa pasar sedang berada dalam mode defensif. Kombinasi faktor eksternal membuat arah pergerakan IHSG mudah berubah dan cenderung volatil.
Support 7.900 jadi titik pantau
Sejumlah analis menilai level 7.900 sebagai support psikologis yang penting. Area ini kini menjadi acuan utama untuk membaca apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai mereda.
Bagi investor ritel, kondisi seperti ini menuntut disiplin yang lebih tinggi. Manajemen risiko dan penggunaan stop loss menjadi perhatian utama ketika pasar bergerak tidak stabil.
Meski jangka pendek tertekan, kinerja IHSG dalam horizon lebih panjang masih terlihat kuat. Indeks tercatat naik 43,09 persen dalam 10 tahun terakhir dan tumbuh 984,85 persen sepanjang waktu.
Basis pasar juga terus berkembang. Jumlah emiten telah mencapai 864 perusahaan, yang menjadi salah satu penopang penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia ke depan.
Fokus pelaku pasar bergeser ke faktor domestik
Selain mencermati sentimen global, investor juga menaruh perhatian pada pembentukan lembaga baru seperti Danantara. Banyak pelaku pasar mencoba menilai bagaimana peran lembaga pengelola investasi itu terhadap stabilitas pasar modal di masa mendatang.
Perhatian lain tertuju pada rating Moody’s yang kerap menjadi acuan arus dana asing jangka panjang. Bagi manajer investasi, penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti ini dapat memengaruhi keputusan untuk bertahan atau keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia.
Di tengah kondisi yang masih rentan, investor profesional cenderung menekankan pentingnya fundamental emiten. Diversifikasi ke sektor defensif, pemantauan harga komoditas global terutama batu bara, serta perhatian pada kebijakan suku bunga Bank Indonesia menjadi strategi yang banyak diperhitungkan.
Aktivitas perdagangan yang sempat meningkat pada Januari 2026 juga menunjukkan pasar masih memiliki kedalaman. Namun untuk saat ini, pelaku pasar tetap menunggu sinyal stabilisasi dari pemerintah dan otoritas terkait sambil mengamati arah pasar global pada awal pekan mendatang.







