Target 250 emas yang dipasang Surabaya untuk Porprov Jatim 2027 tidak berdiri sendiri. Di balik angka besar itu, kota ini sudah menyiapkan jalur seleksi dan pembinaan yang dimulai dari ajang tingkat daerah agar kontingen yang turun nanti tidak datang dengan persiapan seadanya.
Langkah awal yang paling terlihat ada pada Piala Wali Kota Surabaya 2026. Ajang tahunan tersebut dipakai sebagai pintu talent scouting untuk memantau atlet potensial dari puluhan cabang olahraga sekaligus mengukur kesiapan mereka dari sisi fisik, mental, dan pengalaman bertanding.
Pencarian bibit dimulai dari ajang daerah
Kepala Bidang Olahraga Disbudporapar Kota Surabaya, Indriatno Heryawan, menjelaskan bahwa Piala Wali Kota tidak hanya menjadi kompetisi biasa. Menurut dia, ajang ini juga berfungsi sebagai ruang untuk menemukan bibit atlet sejak dini dan membaca kesiapan mereka secara lebih utuh.
Tahun ini, cabang olahraga yang dipertandingkan mencapai sekitar 40 cabang. Dari sejumlah pertandingan yang sudah berjalan, antusiasme peserta terlihat cukup meriah dan menjadi tanda bahwa minat terhadap kompetisi ini cukup besar.
Bertambahnya jumlah cabang yang dilibatkan juga dipandang sebagai sinyal keseriusan Surabaya dalam membangun fondasi kekuatan olahraga daerah. Dengan ruang pertandingan yang lebih luas, proses pencarian atlet potensial dinilai bisa berlangsung lebih tajam.
Jalur menuju Porprov dibuat berlapis
Indriatno menilai hasil Piala Wali Kota Surabaya 2026 bisa menjadi acuan penting untuk membentuk kontingen menuju Porprov Jatim 2027. Karena itu, kompetisi yang digelar sekarang tidak hanya berhenti pada perebutan medali, tetapi juga menjadi bagian dari pemetaan atlet yang layak melangkah ke tahap berikutnya.
Surabaya sendiri tidak memilih cara instan untuk mengejar target besar tersebut. Pemkot Surabaya bersama KONI Surabaya menyusun kompetisi berjenjang, seleksi atlet, dan pemusatan latihan cabang agar persiapan berlangsung lebih terukur.
Pendekatan itu dipakai karena target 250 emas bukan sasaran kecil. Dengan kebutuhan yang besar, pembinaan dinilai harus disusun sejak awal agar angka tersebut tetap realistis untuk dikejar.
KONI dorong pembinaan lewat banyak turnamen
Ketua Umum KONI Kota Surabaya, Arderio Hukom, melihat turnamen bukan sekadar ajang menang atau kalah. Menurut dia, semakin banyak kompetisi yang diikuti atlet, semakin besar pula peluang mereka berkembang melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.
Arderio juga menilai atlet yang tampil di Piala Wali Kota 2026 sudah menunjukkan ekspektasi yang sesuai, baik dari sisi jumlah maupun bakat. Ia menegaskan bahwa setiap cabang olahraga punya keistimewaan masing-masing yang perlu terus diasah lewat kompetisi.
Dalam skema menuju Porprov Jatim 2027, KONI Surabaya menyiapkan seleksi atlet melalui berbagai ajang. Peraih medali akan diprioritaskan untuk mengikuti pemusatan latihan cabang atau Puslatcab agar pembinaan berjalan lebih terarah.
Surabaya ingin menjaga tradisi prestasi
Optimisme Surabaya ikut bertumpu pada catatan mereka yang selama ini konsisten meraih juara umum. Kota ini juga disebut ikut memberi kontribusi di tingkat nasional, sehingga target besar di Porprov dipandang masih berada dalam jalur pengembangan prestasi yang sudah dibangun.
Meski begitu, dorongan untuk melampaui hasil sebelumnya tetap dibarengi dengan kesadaran bahwa target 250 emas menuntut kerja yang rapi. Karena itu, fokus Surabaya tidak hanya tertuju pada hasil akhir, tetapi juga pada proses menyiapkan atlet dari level kota hingga ajang provinsi.
Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bahwa Surabaya sedang membangun kekuatan olahraga dengan pola yang panjang. Piala Wali Kota menjadi titik masuk untuk pencarian bakat, sementara Puslatcab dan seleksi berjenjang disiapkan untuk memastikan atlet yang lolos benar-benar siap bersaing di Porprov Jatim 2027.
Source: www.jawapos.com






