Surabaya menegaskan bahwa investasi yang baik tidak cukup dinilai dari besarnya modal yang masuk. Kota ini justru memberi bobot pada dampak nyata, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, kepatuhan regulasi, legalitas usaha, hingga kemitraan dengan UMKM.
Pendekatan itu mengemuka dalam Anugerah Investa Surabaya (AIS) 2025 di Balai Kota Surabaya. Dengan tema Surabaya Gerbang Investasi Kelas Dunia, pemerintah kota menempatkan investasi sebagai alat untuk memperluas kesejahteraan warga, bukan sekadar angka dalam laporan penanaman modal.
Ukuran baru yang dipakai Surabaya
Di banyak daerah, keberhasilan investasi kerap berhenti pada capaian nominal dan persetujuan proyek. Surabaya memilih menilai lebih jauh karena modal yang masuk diharapkan ikut membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.
Model seperti ini sejalan dengan arah global yang menekankan investasi berkelanjutan. UNCTAD melalui World Investment Report menyoroti investasi yang bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberi manfaat sosial dan lingkungan.
Sejalan dengan itu, Kementerian Investasi/BKPM juga mendorong investasi berkualitas yang menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal. Surabaya lalu menerjemahkan arah tersebut ke dalam penilaian yang menuntut hasil yang terasa di masyarakat.
UMKM ditempatkan dalam rantai manfaat
Salah satu ciri penting dari pendekatan Surabaya adalah kemitraan investor dengan UMKM. Kebutuhan perusahaan seperti katering, percetakan, logistik, seragam kerja, hingga jasa kebersihan diarahkan agar bisa dipenuhi pelaku usaha lokal.
Skema itu membuat aliran manfaat tidak berhenti di perusahaan besar. UMKM memperoleh pasar yang lebih pasti, sementara perusahaan mendapat rantai pasok yang lebih efisien dan dekat dengan kebutuhan operasional.
Hubungan tersebut juga memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ekonomi lokal dengan jejaring usaha yang kuat cenderung lebih tahan menghadapi krisis dibanding ekonomi yang bertumpu pada satu atau dua perusahaan besar saja.
Menjauh dari ekonomi yang terisolasi
Surabaya mencoba menghindari pola pertumbuhan yang terpisah dari warga sekitar atau enclave economy. Dalam pola itu, kawasan industri berkembang, tetapi masyarakat sekitar tidak ikut merasakan manfaat yang memadai.
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa struktur ekonomi Surabaya didominasi sektor perdagangan, industri pengolahan, akomodasi, makanan dan minuman, serta jasa. Seluruh sektor tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan UMKM dan usaha lokal lain.
Karena itu, investasi yang masuk diharapkan menjadi pengungkit bagi ribuan pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota. Arah tersebut membuat investasi lebih dekat dengan kebutuhan ekonomi harian warga.
| Fokus Penilaian | Bentuk Manfaat | Kelompok Terkait |
|---|---|---|
| Penyerapan tenaga kerja lokal | Lapangan kerja lebih luas | Warga Surabaya |
| Kemitraan dengan UMKM | Pasar usaha lebih pasti | Pelaku UMKM |
| Kepatuhan regulasi dan legalitas usaha | Tata kelola lebih tertib | Investor dan pemerintah daerah |
Kemudahan usaha tetap harus dibarengi pengawasan
Pemerintah Kota Surabaya juga membuka Klinik Investasi sebagai bagian dari pelayanan perizinan. Langkah ini menunjukkan bahwa kemudahan usaha dipahami sebagai layanan publik yang harus cepat, transparan, dan bebas pungutan liar.
Investor membutuhkan kepastian hukum dan tata kelola yang bersih agar usaha bisa berjalan tanpa hambatan administratif yang tidak perlu. Namun, kemudahan itu tetap harus diimbangi pengawasan agar perlindungan lingkungan, hak pekerja, dan kepentingan masyarakat tidak terabaikan.
Di titik ini, kualitas tata kelola menjadi bagian penting dari daya tarik investasi. Daerah yang mampu menjaga keseimbangan antara kemudahan berusaha dan perlindungan publik akan lebih mudah membangun kepercayaan pelaku usaha.
Indikator yang mungkin dipakai ke depan
AIS 2025 memperlihatkan bahwa investasi dapat diposisikan sebagai wajah pembangunan daerah yang lebih inklusif. Meski begitu, penghargaan semacam ini baru menjadi awal dari proses yang lebih panjang.
Ke depan, indikator investasi berkualitas dapat diperluas. Ukurannya bisa mencakup jumlah UMKM yang naik kelas setelah bermitra dengan perusahaan besar, kenaikan pendapatan tenaga kerja lokal, kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan, dan lahirnya inovasi berbasis teknologi.
Penghargaan juga dapat diarahkan untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan. Perusahaan yang mampu mengurangi emisi karbon, mengembangkan energi terbarukan, mengelola limbah secara bertanggung jawab, atau meningkatkan inklusi penyandang disabilitas dapat diberi apresiasi lebih tinggi.
Dengan modal sebagai kota pendidikan, industri, dan perdagangan, Surabaya memiliki ruang besar untuk mempertemukan perguruan tinggi, lembaga riset, komunitas inovasi, dan pelaku usaha. Dari sana, investasi tidak hanya bergerak sebagai angka ekonomi, tetapi juga sebagai mesin yang menghidupkan pekerjaan dan UMKM di tengah warga.
Source: jatim.antaranews.com






